Kondisi Terkini Tambang Emas Gunung Botak: Ribuan Tenda dan Peralatan Penambang Emas Dibakar

Kondisi terkini tambang emas illegal di Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku.

Penulis: Fajrin S Salasiwa | Editor: Salama Picalouhata
Fajrin
Kondisi terkini tambang emas Gunung Botak. 

TRIBUNAMBON.COM -- Kondisi terkini tambang emas illegal di Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku.

Pada Rabu (11/10/2023) hari ini, terlihat tidak ada aktivitas penambangan emas seperti sebelumnya.

Pasalnya aparat gabungan TNI Polri baru saja melakukan penertiban dengan membakar ribuan tenda milik penambang emas ilegal Gunung Botak.

Aparat juga membakar serta menghancurkan media, peralatan yang digunakan penambang melakukan penembangan emas ilegal dengan sistem rendaman, dompeng dan tembak larut di kawasan Gunung Botak.

Baca juga: Pemda Diminta Segera Rasionalisasi Anggaran Pilkada di Ambon

Bak-bak rendaman berisi material pasir bercampur dibakar serta diporak-porandakan aparat keamanan.

Kabag Ops Polres Pulau Buru AKP Uspril W. Futwembun menjelaskan, penertiban tersebut berdasarkan perintah pimpinan, agar harus bersihkan dan tertibkan seluruh aktivitas PETI di gunung botak.

"Ini kegiatan gabungan dari TNI, Polri dan Satpol PP, serta didukung oleh masyarakat adat setempat," ucapnya.

Dikatakan, pihaknya telah meminta penambang emas mengosongkan lokasi tambang sebelum mereka melakukan penertiban.

"Sehingga tidak ada perlawanan dari penambang saat aparat melakukan penertiban ini," ucapnya.

Bahkan lanjutnya, sebagian penambang sudah meninggalkan lokasi tambang sebelum aparat keamanan datang.

Sementara sebagian lainnya menyaksikan tenda-tenda serta rendaman, dompeng dan tembak laut dibakar dan dihancurkan aparat keamanan.

"Sesuai perintah pimpinan untuk melakukan pembersihan terhadap kegiatan penambangan emas ilegal di lokasi Gunung Botak dengan cara dibongkar dan dibakar, usahakan tidak ada bangunan atau tenda yang terlihat masih berdiri, semua aktifitas dan tenda harus diratakan dengan tanah," ungkapnya.

Penertiban penambang bukan pertama kali, kerap ditertibkan namun penambang masih saja kembali.

Sebagian besar penambang mengaku, terpaksa menambang untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved