BPKW XX
Merawat Tradisi Lewat Gerak: Kisah Tarian Tnabar Ilaa dari Tanimbar
Masyarakat Tanimbar memiliki identitas budaya yang kuat dan khas, yang membedakannya dari etnis lain di Maluku.
Penulis : Eklevina Eirumkuy, S.S., M. Si
Pamong Budaya Ahli Muda BPK Wilayah XX
Kabupaten Kepulauan Tanimbar di Provinsi Maluku dikenal sebagai salah satu wilayah yang kaya akan tradisi dan adat istiadat.
Masyarakat Tanimbar memiliki identitas budaya yang kuat dan khas, yang membedakannya dari etnis lain di Maluku.
Salah satu falsafah hidup yang menjadi dasar kehidupan sosial masyarakatnya adalah budaya Duan Lolat, yaitu sistem kekerabatan yang mengatur hubungan sosial, tata kehidupan masyarakat, hingga perkawinan adat.
Selain falsafah tersebut, Tanimbar juga memiliki berbagai kekayaan budaya lain, seperti tradisi Kidabela, seni tenun ikat Tanimbar yang bernilai tinggi, ukiran patung kayu tradisional, serta kesenian berupa tari dan lagu daerah.
Salah satu tarian tradisional yang dikenal luas adalah Tari Tnabar Ila’a, yang kerap dipentaskan dalam berbagai acara adat, syukuran, maupun pesta masyarakat.
Menurut Titus Londa, tokoh masyarakat dari Desa Tumbur dalam wawancara penelitian tahun 2024, Tari Tnabar Ila’a merupakan salah satu tarian adat yang menyimpan kisah sejarah sekaligus nilai-nilai sosial budaya penting bagi masyarakat Tanimbar.
Secara etimologis, istilah Tnabar Ila’a berasal dari bahasa Fordata, di mana tnabar berarti tarian dan ila’a berarti besar.
Dengan demikian, Tnabar Ila’a dapat dimaknai sebagai tarian kebesaran yang dibawakan secara massal sebagai ungkapan kegembiraan dan rasa syukur atas suatu peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat.
Di berbagai desa di Tanimbar, Tari Tnabar Ila’a memiliki kisahsejarah yang berbeda-beda. Di Desa Tumbur, misalnya, tarianini menggambarkan perayaan masyarakat atas kemenangan dalam peperangan pada masa lalu.
Hal ini tercermin darikomposisi penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Penari laki-laki membentuk formasi mengelilingi para penari perempuan, sambil membawa busur dan anak panah sebagai simbol perlindungan dan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan serangan balasan dari desa lain.
Dalam kajian Batkunde dkk. (2012), disebutkan bahwa pada masa lalu pertikaian antar kampung di Tanimbar kerap terjadi. Konflik tersebut dapat dipicu oleh berbagai persoalan, seperti sengketa antar individu, masalah perkawinan, hingga batas wilayah tanah.
Dari pengalaman sejarah tersebut, para leluhur Tanimbar kemudian menciptakan Tari Tnabar Ila’a sebagai bentuk ekspresi kearifan lokal yang menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat pada masa itu.
Dari sisi koreografi, ragam gerak Tari Tnabar Ila’a mencerminkan nilai kebersamaan dan persatuan. Para penari saling menggenggam tangan, dengan posisi tubuh setengah membungkuk yang dikenal sebagai gerakan tore. Busana yang dikenakan berupa kain dan syal tenun khas Tanimbar, yang semakin memperkuat identitas budaya dalam pertunjukan tersebut.
| Lentera Sejarah di Pesisir Hila, Membaca Poros Waktu melalui Benteng Amsterdam |
|
|---|
| Hotong: Si Butiran Emas dari Bumi Bupolo yang Kini Terancam Dilupakan |
|
|---|
| Mengenal Hoer Findamar, Tradisi Perahu Lailatul Qadar Warisan Leluhur Pulau Kur |
|
|---|
| Tahuri, Bunyi Pertama yang Keluar dari Bumi Maluku |
|
|---|
| Sinergikan Pemajuan Kebudayaan, BPKW XX Fasilitasi Koordinasi Direktorat BKMA dan Majelis Latupati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Tanimbar-tari.jpg)