Rabu, 27 Mei 2026

BPKW XX Maluku

Inafuka: Suara Hati dari Bumi Bupolo

Di balik lantunannya yang sederhana, tersimpan jejak sejarah, nilai budaya, dan identitas masyarakat Buru yang terus bertahan hingga hari ini.

Tayang:
Editor: Fandi Wattimena
BPKW XX Maluku
INAFUKA - Pelantun Inafuka dari desa Wapsalit, kecamatan Lolong Guba, Kabupaten Buru 

Oleh BPKW XX Maluku / Umi Hidayati, S.S

TRIBUNAMBON.COM - Ketika tifa mulai ditabuh dan syair adat dilantunkan, masyarakat Kabupaten Buru percaya bahwa bukan hanya manusia yang sedang mendengar, tetapi juga para leluhur.

Tradisi itu dikenal dengan nama Inafuka, nyanyian adat yang menjadi ruang bagi masyarakat Bupolo untuk menyampaikan doa, nasihat, kerinduan, dan pengalaman hidup.

Di balik lantunannya yang sederhana, tersimpan jejak sejarah, nilai budaya, dan identitas masyarakat Buru yang terus bertahan hingga hari ini.

Secara etimologis, kata Inafuka berasal dari bahasa Buru, yaitu ina yang berarti ibu dan fuka yang berarti perut, tanah, atau pulau.

Gabungan keduanya melahirkan makna simbolik sebagai “isi hati seorang ibu”.

Dalam budaya masyarakat Buru, ibu dipandang sebagai sumber kasih sayang, kebijaksanaan, dan penjaga nilai kehidupan.

Karena itu, Inafuka dimaknai sebagai suara batin yang lahir dari pengalaman hidup masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun melalui syair-syair adat.

Dalam praktiknya, Inafuka hadir di berbagai peristiwa penting, seperti upacara perkawinan, pelantikan raja, penyambutan tamu adat, ritual kematian, hingga acara syukuran atas keberhasilan seseorang.

Baca juga: Siksikar: Jendela Sejarah dan Identitas Kultural Kepulauan Kei

Syair-syairnya disampaikan secara spontan menggunakan bahasa simbolik dan metafora yang puitis.

Pelantunannya biasanya dilakukan secara berbalasan dengan iringan tifa yang menciptakan suasana sakral sekaligus emosional.

Dalam beberapa prosesi adat, Inafuka juga disertai penyajian sirih pinang sebagai simbol penghormatan yang merekatkan hubungan manusia, leluhur, dan nilai-nilai adat dalam kehidupan masyarakat Buru.

Lebih dari sekadar seni pertunjukan, Inafuka memiliki fungsi sosial dan budaya yang penting.

Baca juga: Sinergikan Pemajuan Kebudayaan, BPKW XX Fasilitasi Koordinasi Direktorat BKMA dan Majelis Latupati

Tradisi ini menjadi media pewarisan nilai moral, penghormatan, solidaritas sosial, serta hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur. Dalam syair-syairnya tersimpan memori kolektif tentang sejarah, perjuangan hidup, dan identitas budaya masyarakat Buru.

Karena itu, Inafuka tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved