Rabu, 27 Mei 2026

BPKW XX Maluku

Inafuka: Suara Hati dari Bumi Bupolo

Di balik lantunannya yang sederhana, tersimpan jejak sejarah, nilai budaya, dan identitas masyarakat Buru yang terus bertahan hingga hari ini.

Tayang:
Editor: Fandi Wattimena
BPKW XX Maluku
INAFUKA - Pelantun Inafuka dari desa Wapsalit, kecamatan Lolong Guba, Kabupaten Buru 

Menariknya, meskipun memiliki simbol keibuan yang kuat, di wilayah adat Petuanan Kaiely, seperti Desa Wapsalit, Kecamatan Lolong Guba, Inafuka lebih banyak dilantunkan oleh laki-laki.

Hal ini berkaitan dengan struktur sosial adat yang menempatkan laki-laki sebagai pelaksana utama ritual dan ruang publik adat.

Sementara perempuan biasanya melantunkan Inafuka dalam konteks domestik, seperti saat menidurkan anak. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tradisi Inafuka berkembang secara dinamis sesuai konteks sosial masyarakat pendukungnya.

Namun, seperti banyak tradisi lisan lainnya di Indonesia, keberadaan Inafuka kini menghadapi tantangan besar.

Perubahan gaya hidup, dominasi media digital, serta semakin berkurangnya penutur aktif menyebabkan ruang pewarisan tradisi ini semakin sempit.

Generasi muda cenderung lebih akrab dengan budaya populer modern dibandingkan tradisi adat yang diwariskan leluhur mereka.

Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa upaya pelestarian yang serius, bukan tidak mungkin Inafuka perlahan hanya akan menjadi catatan sejarah.

Dalam upaya menjaga keberlangsungan tradisi ini di tengah tantangan zaman, Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku telah melakukan berbagai langkah strategis, dimulai dari kegiatan pendokumentasian Inafuka hingga pelaksanaan studi mengenai tradisi Inafuka di Kabupaten Buru pada tahun 2025.

Tidak hanya itu, melalui dukungan dana fasilitasi pemajuan kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku, masyarakat Buru juga turut bergerak aktif melaksanakan berbagai kegiatan revitalisasi serta menyelenggarakan Festival Inafuka, yang memperluas ruang pewarisan sekaligus mendekatkan kembali suara hati Bumi Bupolo ini kepada generasi muda.

Melalui sinergi dokumentasi, revitalisasi budaya, dan pengenalan tradisi yang konsisten tersebut, Inafuka bukan hanya milik masyarakat Pulau Buru semata, tetapi juga bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia.

Pada akhirnya, Inafuka adalah suara hati dari Bumi Bupolo yang senantiasa mengingatkan kita bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang statis, melainkan sebuah identitas hidup yang memberi makna mendalam bagi kehidupan hari ini dan masa depan. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved