Kamis, 28 Mei 2026

BPKW XX Maluku

Inafuka: Suara Hati dari Bumi Bupolo

Di balik lantunannya yang sederhana, tersimpan jejak sejarah, nilai budaya, dan identitas masyarakat Buru yang terus bertahan hingga hari ini.

Tayang:
Editor: Fandi Wattimena
BPKW XX Maluku
INAFUKA - Pelantun Inafuka dari desa Wapsalit, kecamatan Lolong Guba, Kabupaten Buru 

Oleh BPKW XX Maluku / Umi Hidayati, S.S

TRIBUNAMBON.COM - Ketika tifa mulai ditabuh dan syair adat dilantunkan, masyarakat Kabupaten Buru percaya bahwa bukan hanya manusia yang sedang mendengar, tetapi juga para leluhur.

Tradisi itu dikenal dengan nama Inafuka, nyanyian adat yang menjadi ruang bagi masyarakat Bupolo untuk menyampaikan doa, nasihat, kerinduan, dan pengalaman hidup.

Di balik lantunannya yang sederhana, tersimpan jejak sejarah, nilai budaya, dan identitas masyarakat Buru yang terus bertahan hingga hari ini.

Secara etimologis, kata Inafuka berasal dari bahasa Buru, yaitu ina yang berarti ibu dan fuka yang berarti perut, tanah, atau pulau.

Gabungan keduanya melahirkan makna simbolik sebagai “isi hati seorang ibu”.

Dalam budaya masyarakat Buru, ibu dipandang sebagai sumber kasih sayang, kebijaksanaan, dan penjaga nilai kehidupan.

Karena itu, Inafuka dimaknai sebagai suara batin yang lahir dari pengalaman hidup masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun melalui syair-syair adat.

Dalam praktiknya, Inafuka hadir di berbagai peristiwa penting, seperti upacara perkawinan, pelantikan raja, penyambutan tamu adat, ritual kematian, hingga acara syukuran atas keberhasilan seseorang.

Baca juga: Siksikar: Jendela Sejarah dan Identitas Kultural Kepulauan Kei

Syair-syairnya disampaikan secara spontan menggunakan bahasa simbolik dan metafora yang puitis.

Pelantunannya biasanya dilakukan secara berbalasan dengan iringan tifa yang menciptakan suasana sakral sekaligus emosional.

Dalam beberapa prosesi adat, Inafuka juga disertai penyajian sirih pinang sebagai simbol penghormatan yang merekatkan hubungan manusia, leluhur, dan nilai-nilai adat dalam kehidupan masyarakat Buru.

Lebih dari sekadar seni pertunjukan, Inafuka memiliki fungsi sosial dan budaya yang penting.

Baca juga: Sinergikan Pemajuan Kebudayaan, BPKW XX Fasilitasi Koordinasi Direktorat BKMA dan Majelis Latupati

Tradisi ini menjadi media pewarisan nilai moral, penghormatan, solidaritas sosial, serta hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur. Dalam syair-syairnya tersimpan memori kolektif tentang sejarah, perjuangan hidup, dan identitas budaya masyarakat Buru.

Karena itu, Inafuka tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.

Menariknya, meskipun memiliki simbol keibuan yang kuat, di wilayah adat Petuanan Kaiely, seperti Desa Wapsalit, Kecamatan Lolong Guba, Inafuka lebih banyak dilantunkan oleh laki-laki.

Hal ini berkaitan dengan struktur sosial adat yang menempatkan laki-laki sebagai pelaksana utama ritual dan ruang publik adat.

Sementara perempuan biasanya melantunkan Inafuka dalam konteks domestik, seperti saat menidurkan anak. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tradisi Inafuka berkembang secara dinamis sesuai konteks sosial masyarakat pendukungnya.

Namun, seperti banyak tradisi lisan lainnya di Indonesia, keberadaan Inafuka kini menghadapi tantangan besar.

Perubahan gaya hidup, dominasi media digital, serta semakin berkurangnya penutur aktif menyebabkan ruang pewarisan tradisi ini semakin sempit.

Generasi muda cenderung lebih akrab dengan budaya populer modern dibandingkan tradisi adat yang diwariskan leluhur mereka.

Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa upaya pelestarian yang serius, bukan tidak mungkin Inafuka perlahan hanya akan menjadi catatan sejarah.

Dalam upaya menjaga keberlangsungan tradisi ini di tengah tantangan zaman, Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku telah melakukan berbagai langkah strategis, dimulai dari kegiatan pendokumentasian Inafuka hingga pelaksanaan studi mengenai tradisi Inafuka di Kabupaten Buru pada tahun 2025.

Tidak hanya itu, melalui dukungan dana fasilitasi pemajuan kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku, masyarakat Buru juga turut bergerak aktif melaksanakan berbagai kegiatan revitalisasi serta menyelenggarakan Festival Inafuka, yang memperluas ruang pewarisan sekaligus mendekatkan kembali suara hati Bumi Bupolo ini kepada generasi muda.

Melalui sinergi dokumentasi, revitalisasi budaya, dan pengenalan tradisi yang konsisten tersebut, Inafuka bukan hanya milik masyarakat Pulau Buru semata, tetapi juga bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia.

Pada akhirnya, Inafuka adalah suara hati dari Bumi Bupolo yang senantiasa mengingatkan kita bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang statis, melainkan sebuah identitas hidup yang memberi makna mendalam bagi kehidupan hari ini dan masa depan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved