BPKW XX Maluku
Siksikar: Jendela Sejarah dan Identitas Kultural Kepulauan Kei
Nyanyian itu merupakan rekaman sejarah, hukum adat, sekaligus kompas moral yang menuntun kehidupan masyarakat setempat.
Penulis: BPKW XX Maluku/ Jacquelin Pattiasina
TRIBUNAMBON.COM - Di tengah gugusan Kepulauan Kei yang meliputi Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara, tumbuh sebuah tradisi lisan sarat makna.
Warga menyebutnya Siksikar.
Lebih sekadar sarana hiburan pelengkap aktivitas melaut atau berkebun. Sikisar adalah nyanyian rakyat yang telah diwariskan secara anonim lebih dari delapan generasi.
Nyanyian itu merupakan rekaman sejarah, hukum adat, sekaligus kompas moral yang menuntun kehidupan masyarakat setempat.
Keberadaan Siksikar menjadi bukti otentik (tad) bagaimana peristiwa masa lampau digubah menjadi untaian nada agar tetap hidup dalam ingatan kolektif.
Struktur Siksikar sendiri sangat kaya dan bervariasi berdasarkan isinya; mulai dari ngel-ngel yang merekam peristiwa sejarah seperti migrasi tokoh Nen Dit Sakmas yang melahirkan hukum adat Larvul Ngabal, hingga wawar yang mengisahkan kepahlawanan.
Ada pula baut dan atnanit yang melukiskan kebesaran marga sembari menyisipkan petuah bijak, maroin sebagai ekspresi kesedihan yang mendalam, soryat untuk merayakan kegembiraan dalam pesta rakyat, serta snehat, sebuah instrumen kritik sosial dan sindiran elegan untuk mencegah penyimpangan moral di tengah masyarakat.
Sebagai tradisi lisan yang lahir sebelum masyarakat Kepulauan Kei mengenal tulisan, Siksikar memiliki fungsi sebagai pemelihara memori kolektif dan identitas kultural.
Baca juga: Batuku Adat: Tradisi Penyelesaian Sengketa di Kian Darat Seram Bagian Timur
Melalui untaian nada dan lirik, nyanyian rakyat ini mengemban nilai historis yang kuat dengan mendokumentasikan asal-usul leluhur, silsilah marga maupun ohoi, hingga sejarah penyebaran hukum adat Larvul Ngabal serta kelompok masyarakat Ur Siuw dan Lor Lim.
Jenis Siksikar seperti ngel-ngel dan wawar kerap disandungkan dalam momentum sakral, mulai dari pelantikan raja, pernikahan, hingga penyambutan tamu, bukan sekadar sebagai pengisi acara, melainkan sebagai instrumen otentik untuk mengabarkan serta merefleksikan kembali peristiwa penting masa lampau agar senantiasa dihayati oleh segenap warga komunitas.
Di luar dimensi historisnya, Siksikar juga bermanifestasi sebagai pranata sosial yang sarat akan nilai sosiologis dan filosofis guna menjaga stabilitas kehidupan bermasyarakat. Tradisi ini berfungsi efektif sebagai pengawas norma-norma sosial.
Baca juga: Hotong: Si Butiran Emas dari Bumi Bupolo yang Kini Terancam Dilupakan
Keunikan Siksikar juga terletak pada kelenturannya sebagai media komunikasi dua arah. Ia dapat menjelma menjadi sarana hiburan yang memicu kegembiraan publik melalui jenis soryat, sekaligus menjadi saluran penyampaian kritik, saran, serta harapan rakyat kepada penguasa secara elegan. Karakteristik inilah yang menjadikan Siksikar sebagai alat pemersatu komunitas yang kokoh dalam meneguhkan hukum adat di tanah Evav.
Keberadaan dan keberlanjutan siksikar pada akhirnya menjadi pilar edukasi lintas generasi yang krusial untuk membentuk karakter, etika, dan pengetahuan dasar bagi generasi muda Kei mengenai akar kebudayaan mereka. Lewat keindahan melodi dan kekuatan liriknya, bahasa lokal Kei dapat terus dipertahankan dari kepunahan di tengah gempuran zaman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Siksikar-1.jpg)