BPKW XX
Hotong: Si Butiran Emas dari Bumi Bupolo yang Kini Terancam Dilupakan
Itulah hotong, atau dalam bahasa Buru disebut feten. Tanaman pangan mungil yang menyimpan sejarah besar.
Penulis : Piter A. Sayaranamual, S.Sos
Pamong Nilai Budaya, Ahli Pertama BPK Wilayah XX .Maluku
Di sebuah ladang berbatu di pedalaman Pulau Buru, seorang petani tua menabur benih ke arah angin berhembus. Gerakannya terlatih, penuh keyakinan. Bukan sekadar kebiasaan, itu adalah pelaksanaan pesan leluhur yang telah diwariskan berabad-abad lamanya. Itulah hotong, atau dalam bahasa Buru disebut feten. Tanaman pangan mungil yang menyimpan sejarah besar.
Bagi sebagian besar orang Indonesia, hotong mungkin terdengar asing, namun bagi masyarakat adat Pulau Buru di Maluku tanaman ini adalah segalanya. Ia adalah makanan, ia adalah ritual, ia adalah identitas.
"Hotong bukan sekadar pangan lokal. Ia adalah simbol pengorbanan, keberkahan, dan jembatan penghubung antara manusia, alam, dan leluhur orang Buru" - Pelik Tasane, 48 tahun, petani hotong, Dusun Waenewen, Desa Labuang, Kecamatan Namrole.
Putri yang Menjadi Butiran Pangan
Kisah asal-usul hotong sungguh menyentuh hati, menurut kepercayaan masyarakat Buru, konon pada zaman dahulu hiduplah sekelompok orang yang hendak melakukan pelayaran panjang, masalahnya, mereka tidak punya cukup bekal makanan. Seorang putri bermuka cantik berhati mulia pun bersedih melihat kondisi saudara-saudaranya.
Dengan penuh keikhlasan, sang putri berdoa kepada Opulastala (Tuhan Yang Maha Kuasa), memohon agar dirinya bisa memberikan makanan bagi mereka yang dicintai sekalipun harus mengorbankan tubuhnya sendiri dan Tuhan pun mengabulkan. Sebagian tubuh sang putri berubah menjadi benih hotong yang kemudian ia berikan sambil berpesan: "Ambil dan bagikanlah benih ini, taburlah mengikuti arah angin."
Pesan sederhana namun sarat makna itu kini masih dijalankan oleh para petani hotong di Buru. Menabur benih harus searah angin bukan sekadar teknik bertani, melainkan penghormatan kepada sang putri yang telah mengorbankan segalanya.
Tiga Jenis, Satu Jiwa
Masyarakat di Buru Selatan mengenal tiga jenis hotong: Fet Folot (hotong berbulu), Fet Kikin (hotong tidak berbulu), dan Fet Gilat (hotong hitam/loreng). Ketiganya tumbuh di lahan yang oleh sebagian orang dianggap tidak produktif, tanah kering, berbatu, marjinal.
Justru di situlah kekuatan hotong: ia tidak butuh manja, tidak butuh irigasi canggih, tidak butuh pupuk kimia berlebihan. Hotong termasuk dalam jenis Setaria italica (L) Beauv saudara jauh dari padi dan lebih mirip alang-alang dalam penampilannya. Ia bisa tumbuh dari dataran rendah hingga pegunungan, membutuhkan waktu hanya 75-90 hari dari tanam hingga panen. Singkat, tapi hasilnya sangat berarti.
Ritual Sebelum Benih Ditebar
Menanam hotong bukan pekerjaan asal-asalan. Ada serangkaian ritual yang harus dilalui. Dimulai dari pembersihan lahan di bulan Oktober - November, pembakaran (pefa hawa), hingga "mendinginkan" lahan selama beberapa hari. Laki-laki mengerjakan bagian yang berat ini menebang pohon, membersihkan semak, menyiapkan tanah.
Ketika fajar menyingsing di bulan November, pukul 06.00 pagi, tibalah saat yang paling sakral: menabur benih. Hanya mereka yang berpengalaman dan memiliki kemampuan khusus yang boleh melakukannya. Sebelum tangan menyentuh benih, doa dipanjatkan bersama keluarga. Lalu diucapkan pula doa syarat, mantra anti hama dalam bahasa Buru yang diwariskan dari leluhur dan tidak boleh diberitahukan kepada sembarang orang.
"Doa syarat tidak bisa disampaikan kepada orang lain karena itu pamali dan rahasia. Ini warisan dari orang tua kami"- Benhard Lesnussa, 85 Tahun, Kepala Soa Masbait, Desa Labuang, Namrole
Lebih dari Makanan: Sajian Para Raja
Dalam tata nilai masyarakat adat Buru hotong memiliki kedudukan istimewa yang tak tertandingi tanaman lain. Pada zaman kerajaan, upeti kepada raja tidak akan diterima jika tidak disertai hotong. Lebih spesifik lagi: hotong yang dipersembahkan haruslah hasil panen pertama yang disebut ulu hasil sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada raja.
Hotong juga hadir di meja makan dalam setiap momen penting: perkawinan, upacara adat, bahkan acara kematian. Dalam tradisi lama, feten konit (hotong kuning) selalu dihidangkan untuk semua yang hadir dalam upacara kematian. Warna kuningnya yang hangat seolah menjadi simbol kehidupan di tengah duka.
Baca juga: Dituduh Selingkuh, Penjual Rujak Natsepa ini Polisikan Konten Kreator Liliz
Baca juga: Dugaan Korupsi Bansos Malteng, Saksi HA Kembalikan Uang ke Kas Negara, Akankah Nama Lain Menyusul?
| Merawat Tradisi Lewat Gerak: Kisah Tarian Tnabar Ilaa dari Tanimbar |
|
|---|
| Mengenal Hoer Findamar, Tradisi Perahu Lailatul Qadar Warisan Leluhur Pulau Kur |
|
|---|
| Tahuri, Bunyi Pertama yang Keluar dari Bumi Maluku |
|
|---|
| Sinergikan Pemajuan Kebudayaan, BPKW XX Fasilitasi Koordinasi Direktorat BKMA dan Majelis Latupati |
|
|---|
| Start dan Finish di Ambon, BPKW XX Sukses Gelar Festival Budaya Maluku 2025 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/hotong-bursel.jpg)