BPKW XX
Hotong: Si Butiran Emas dari Bumi Bupolo yang Kini Terancam Dilupakan
Itulah hotong, atau dalam bahasa Buru disebut feten. Tanaman pangan mungil yang menyimpan sejarah besar.
Una Lamat: Pesta Syukur Setelah Panen
Setiap kali panen selesai, masyarakat Buru menggelar Una Lamat sebuah makan bersama di meja panjang beralaskan daun pisang. Di atasnya tersaji hasil kebun segar: hotong, ikan, dan daging hewan buruan dari hutan. Pemilik kebun, keluarga, pendeta, majelis jemaat semua duduk bersama dalam kebersamaan yang tulus.
Una Lamat bukan sekadar pesta makan, ini adalah ungkapan syukur kepada Tuhan dan leluhur, pengakuan atas kerja keras bersama, dan penghormatan kepada tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di sini, hotong menjadi pusat dari sebuah ekosistem budaya yang hidup.
Dari Butiran ke Piring: Ragam Olahan Hotong
Kepiawaian perempuan Buru dalam mengolah hotong sungguh memukau. Dari butiran kecil yang ditumbuk dalam lesung kayu lahirlah beragam sajian: bubur hotong yang hangat dan mengenyangkan, feten konit (hotong kuning) yang mirip nasi kuning tapi punya karakter rasa tersendiri, hingga wajik hotong yang manis legit dari campuran gula aren dan santan. Di era kini, kreativitas kian berkembang lahirlah kue kering, cookies, bahkan mie instan berbahan hotong.
Resep Olahan Hotong Tradisional
- Feten Konit (Hotong Kuning); biji hotong, santan, kunyit, daun pandan, garam. Dimasak seperti nasi kuning tanpa dikukus.
- Bubur Hotong; biji hotong dimasak dengan air atau santan, tambah daun pandan dan garam secukupnya.
- Wajik Hotong; biji hotong, gula aren, santan, kayu manis. Dituang ke loyang lalu dipotong-potong setelah dingin.
- Kue Kering / Cookies Hotong; tepung hotong dicampur tepung terigu, gula, margarin, dan telur. Dipanggang hingga renyah.
- Hotong dalam Bambu; olahan tertua: hotong dimasak dalam bambu bersama daging kusu (kuskus) hasil buruan hutan.
Ancaman yang Nyata
Namun di balik keagungan tradisi itu, kenyataan pahit tidak bisa ditutup-tutupi. Hotong kini menghadapi ancaman serius. Luas lahan tanam terus menyusut. Generasi muda lebih akrab dengan nasi putih, mie instan, dan roti. Hotong sering dicap sebagai "makanan orang tua" atau "makanan kampung" padahal kandungan gizinya jauh lebih kaya dari beras biasa, serat tinggi, karbohidrat kompleks, protein nabati, tahan disimpan lama.
Urbanisasi menyedot tenaga muda keluar dari kampung, lahan-lahan hotong beralih fungsi, Pengetahuan tentang doa syarat, teknik menabur benih, cara membaca arah angin semua itu terancam tidak sempat diwariskan. Jika dibiarkan, dalam satu atau dua generasi, hotong bisa menjadi sejarah yang hanya bisa dibaca di buku.
"Pelestarian hotong bukan hanya soal makanan. Ini tentang menjaga jati diri, kedaulatan pangan, dan keberlanjutan lingkungan masyarakat adat pulau Buru".
Secercah Harapan dari Rekor MURI
Di tengah kekhawatiran itu, ada kabar menggembirakan. Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Buru pernah menggagas program "One Day No Rice" satu hari tanpa nasi beras, diganti produk olahan hotong.
Hasilnya luar biasa: ratusan bahkan ribuan produk olahan hotong ditampilkan serentak, dan program ini berhasil mendapatkan pengakuan Rekor MURI pada tanggal 19 Desember 2016. sebagai olahan pangan lokal terbanyak.
Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Maluku pun terus bekerja melalui Studi mendalam tentang hotong sebagai makanan tradisional bersama masyarakat adat di Kabupaten Buru dan Buru Selatan, kini tengah diproses untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia di Tahun 2026.
Langkah ini diharapkan dapat memberi perlindungan hukum sekaligus mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis hotong di Pulau Buru dan Buru Selatan.
Hotong adalah cermin dari siapa orang Buru, dalam setiap butirannya tersimpan pengorbanan, cinta, doa, dan kearifan yang merentang ribuan tahun. Ia tumbuh di tanah yang keras persis seperti masyarakat yang melahirkannya
Pertanyaannya kini: akankah kita membiarkan butiran emas itu hilang ditelan zaman? Atau kita pilih untuk bersama menjaganya demi mereka yang datang setelah kita? - Piter A.
Syaranamual, S.Sos. Pamong Budaya Ahli Pertama - Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX | Pamong budaya yang aktif mendokumentasikan kekayaan warisan budaya Maluku.
Terlibat langsung dalam studi pelestarian makanan tradisional hotong dan ketahanan pangan masyarakat adat Buru Selatan tahun 2025. (*)
| Batuku Adat: Tradisi Penyelesaian Sengketa di Kian Darat Seram Bagian Timur |
|
|---|
| Lentera Sejarah di Pesisir Hila, Membaca Poros Waktu melalui Benteng Amsterdam |
|
|---|
| Merawat Tradisi Lewat Gerak: Kisah Tarian Tnabar Ilaa dari Tanimbar |
|
|---|
| Mengenal Hoer Findamar, Tradisi Perahu Lailatul Qadar Warisan Leluhur Pulau Kur |
|
|---|
| Tahuri, Bunyi Pertama yang Keluar dari Bumi Maluku |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/hotong-bursel.jpg)