BPKW XX
Tahuri, Bunyi Pertama yang Keluar dari Bumi Maluku
Alat musik ini tergolong merupakan musik khas masyarakat Maluku karena bahan dasarnya di peroleh dari alam Maluku.
Penulis : Meak Wakim
Pamong Budaya Ahli Muda BPK Wilayah XX
Tahuri sebagai alat musik tradisional masyarakat Maluku, tidak asing lagi dalam budaya musik di Maluku.
Alat musik ini tergolong merupakan musik khas masyarakat Maluku karena bahan dasarnya di peroleh dari alam Maluku.
Sebagai masyarakat maritim konsep laut menjadi kuat karena kosmos (dunia) masyarakat Maluku menjadikan laut sebagai kehidupan.
Orang Maluku menyebut tahurisebagai kuli bia yakni salah satu kerang laut yang bersihkan dan di manfaatkan sebagai musik utama orang Maluku.
Tahuri adalah alat musik terompet yang dikenal oleh masyarakat Maluku di pesisir pantai.
Carolis Elias Horhoruw, mastro musik tahuri 2021 menyebutkan Tahuri adalah peralatan musik yang unik yaitu sebuah kerang yang jika ditiup bunyinya akan terdengar nyaring.
Tahuri atau lebih dikenal dengan musik kulit bia merupakan alat musik yang lahir dariorang-orang kreatif dan penuh inspiratif.
Orang Huaulu di Gunung Manusela menyebut tahuri dengan Huauri.
Hua artinya yang pertama, yang utama; uri artinya bunyi. Jadi Tahuri (Hua uri) artinya bunyi yang pertama keluar dari permukaan bumi.
Pada masa lalu Musik tahuri memiliki nila magis karena musik tahuri adalah bentuk komunikasi masyarakat dengan leluhur atau memberi tanda akan kehadiran leluhur pada upacara ritual tertentu.
Misalnya pada upacara panas pela, upacara pelantikan raja, upacara cuci negeri serta musik utama pada tarian perang atau cakalele.
Stevanus Tiwery budayawan Maluku dalam buku Tahuri Hutumuri (2016) menyebutkan bahwa dalam sistem pemerintahan adat di Maluku, musik tahuri dimanfatkan sebagai alat komunikasi raja dengan masyarakat dimana bunyi tahuri menunjukan adanya tanda raja untuk mengumpulkan masyarakat bila ada keadaan-keadaan tertentu misalnya perang, bencana alam dan lain sebagainya.
Karena itu niai Kesakralan musik tahuri menjadi tanda adanya nilai budaya masyarakat Maluku yang masih hidup dan tetap di lestarikan.
| Lentera Sejarah di Pesisir Hila, Membaca Poros Waktu melalui Benteng Amsterdam |
|
|---|
| Hotong: Si Butiran Emas dari Bumi Bupolo yang Kini Terancam Dilupakan |
|
|---|
| Merawat Tradisi Lewat Gerak: Kisah Tarian Tnabar Ilaa dari Tanimbar |
|
|---|
| Mengenal Hoer Findamar, Tradisi Perahu Lailatul Qadar Warisan Leluhur Pulau Kur |
|
|---|
| Sinergikan Pemajuan Kebudayaan, BPKW XX Fasilitasi Koordinasi Direktorat BKMA dan Majelis Latupati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Tugu-Tahuri.jpg)