BPKW XX
Tahuri, Bunyi Pertama yang Keluar dari Bumi Maluku
Alat musik ini tergolong merupakan musik khas masyarakat Maluku karena bahan dasarnya di peroleh dari alam Maluku.
Keberagaman nilai yang ditunjukan melalui musik tahuri mempertemukan perbedaan basudara (Islam dan Kristen) sebagai konsep hidup bersama.
Nilai utama tahuri adalah bahwa kesakralan akan melekat pada semua orang Maluku dan tahuri memberi pelajaran kebersamaan.
Salah satu konsep keberlanjutan dari musik tahuri yang nyata dalam penyelesaian konflik sosial di Maluku adalah bahwa musik ini merekonsilisasi basudara di Maluku pada acara panas pela dan ritual kumpul gandong.
Perkembangan musik tahuri sebagai simbol musik tradisional Maluku pada masa kini adalah bahwa musik tahuri di manfaatkan pada kegiatan-kegiatan dan ritual-ritual adat di Maluku.
Di gereja-gereja di Maluku di kembangkan sebagai musik etnik sebagai pengganti pujian.
Sementara di sisi lain pemerintah Maluku sering menjadikan musik tahuri sebagai tanda pengeresmian kantor maupun fasilitas publik lainya.
Pada tahun 2018 kolabrasi musik tahuri dan musik hadrat menandakan malam pergantian tahun yang dirayakan masyarakat Kota Ambon.
Musik tahuri juga di jadikan sebagai sumber nada pada orchestra-orkestra besar di Maluku dimana dipertujukan pada festival budaya Maluku.
Tahuri, Bisa Jadi Bahan Diplomasi Budaya Maluku di Kanca Internasional
Sejak musik tahuri di tetapkan sebagai warisan budaya Indonesia (WBTbi) pada tahun 2017 oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan, maka tahuri resmi merupakan produk budaya masyarakat Maluku yang dikemas sebagai alat musik tradisi.
Selain itu juga Tahuri menjadi ikon utama Ambon sebagai kota musik dunia pada tahun 2019. Penjelasan tahuri sebagai simbol identitas budaya Maluku tidak terbantahkan lagi karena dari aspek pemanfaatannya yang berkelanjutan mencerminkan adat yang kuat dan kekuatan kosmos Maluku laut dan darat sebagai simbol kehidupan.
Pertanyaan mendasar bisakan tahuri menuju UNESCO? Pertanyaan ini membutuhkan kerja bersama berbagai pihak dalam mangubere (medayung bersama) menyiapkan tahuri sebagai program yang diusulkan sebaga warisan budaya dunia. Berbagai elemen masyarakat, legisatif, pemerintah Provinsi, dan Kabupaten serta akademisi dan UPT Kebudayaan harus bersinergi bekerjasama menyiapkan data akademis dan dukungan politik serta kerjasama pada level regional maupun nasional.
Aspek lain yang berkelanjutan adalah tahuri telah melahirkan guru maestro yang di tetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yakni; Bapak Carolis EliasHorhoruw sebagai maestro musik tahuri pada tahun 2021.
Hal ini menjadi dasar utama dalam pewarisan yang berkelanjutan. Muculnya minat belajar tahuri dan sanggar-sanggar budaya serta sekolah-sekolah musik yang berkembang, menunjukan tahuri sangat layak untuk di usulkan ke UNESCO.
Namun sebuah optimisme yang di bangun harusnya searah dengan kerja keras bersama mengingat di Maluku belum ada satupun warisan budaya takbenda yang di tetapkan oleh UNESCO berbeda dengan noken di Papua, batik di Jawa, dan lainya.
| Lentera Sejarah di Pesisir Hila, Membaca Poros Waktu melalui Benteng Amsterdam |
|
|---|
| Hotong: Si Butiran Emas dari Bumi Bupolo yang Kini Terancam Dilupakan |
|
|---|
| Merawat Tradisi Lewat Gerak: Kisah Tarian Tnabar Ilaa dari Tanimbar |
|
|---|
| Mengenal Hoer Findamar, Tradisi Perahu Lailatul Qadar Warisan Leluhur Pulau Kur |
|
|---|
| Sinergikan Pemajuan Kebudayaan, BPKW XX Fasilitasi Koordinasi Direktorat BKMA dan Majelis Latupati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Tugu-Tahuri.jpg)