BPKW XX
Mengenal Hoer Findamar, Tradisi Perahu Lailatul Qadar Warisan Leluhur Pulau Kur
Ritual adat ini diwarisi turun-temurun dari Imam Sina, penyiar Islam pertama yang berlayar dari Mekah ke Kepulauan Kur pada malam 27 Ramadan.
Penulis: Ronaldo A. Rahajaan, S.Sos.
Pamong Nilai Budaya, Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX
Pulau Kur: Bumi Makarah di Laut Banda
Di ujung barat Kota Tual, tersembunyi di antara luasnya Laut Banda, terdapat sebuah pulau kecil yang menyimpan kekayaan budaya dan sejarah Islam yang luar biasa.
Itulah Pulau Kur sebuah pulau yang oleh masyarakatnya sendiri disebut sebagai Bumi Makarah, merepresentasikan tempat suci Mekah di tanah Arab.
Bahkan nama 'Kur' konon berasal dari nama kitab suci umat Islam, Al-Quran, yang kemudian dipersingkat oleh masyarakat setempat.
Penamaan ini mencerminkan betapa kentalnya pengaruh Islam yang dibawa oleh para penyiar agama dari tanah Arab sejak berabad-abad silam.
Pulau ini secara geografis termasuk dalam Kecamatan Pulau-Pulau Kur, Kota Tual, Provinsi Maluku, dan merupakan wilayah terluar dengan akses yang terbatas.
Untuk menjangkaunya dari Ambon, perjalanan dapat dilakukan dengan transportasi udara menuju Bandara Karel Sasisubun di Langgur, dilanjutkan dengan kapal cepat sekitar tiga jam.
Apa Itu Hoer Findamar?
Hoer Findamar yang berarti Perahu Ramadan adalah sebuah ritual adat yang bernafaskan Islam dan memiliki nilai kesakralan mendalam dalam kehidupan masyarakat Pulau Kur.
Dalam bahasa lokal, 'hoer' berarti perahu dan 'findamar' merujuk pada Ramadan, bulan suci umat Islam.
Ritual ini bukan sekadar tradisi biasa. Ia merupakan napak tilas perjalanan Imam Sina, penyiar Islam pertama yang diyakini tiba di Pulau Kur tepat pada tanggal 26 Ramadan, malam 27 Ramadan malam yang diyakini sebagai Lailatul Qadar, malam seribu bulan, di mana Allah SWT menurunkan rahmat-Nya ke bumi.
Proses dan Tahapan Tradisi
Persiapan Hoer Findamar dimulai sejak awal Ramadan. Masyarakat bersama-sama memasuki hutan untuk menebang kayu pule atau yang dikenal dengan nama lokal Ka Yangar (kayu susu).
| Batuku Adat: Tradisi Penyelesaian Sengketa di Kian Darat Seram Bagian Timur |
|
|---|
| Lentera Sejarah di Pesisir Hila, Membaca Poros Waktu melalui Benteng Amsterdam |
|
|---|
| Hotong: Si Butiran Emas dari Bumi Bupolo yang Kini Terancam Dilupakan |
|
|---|
| Merawat Tradisi Lewat Gerak: Kisah Tarian Tnabar Ilaa dari Tanimbar |
|
|---|
| Tahuri, Bunyi Pertama yang Keluar dari Bumi Maluku |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Perahu-BPKW.jpg)