Rabu, 3 Juni 2026

BPKW XX

Mengenal Hoer Findamar, Tradisi Perahu Lailatul Qadar Warisan Leluhur Pulau Kur

Ritual adat ini diwarisi turun-temurun dari Imam Sina, penyiar Islam pertama yang berlayar dari Mekah ke Kepulauan Kur pada malam 27 Ramadan.

Tayang:
Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku
BPKW XX MALUKU - Perahu-perahu Hoer Findamar berjajar di tepi Pantai Wear Jo, Pulau Kur, siap dilepas ke laut menuju arah kiblat. 

Penulis: Ronaldo A. Rahajaan, S.Sos. 

Pamong Nilai Budaya, Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX


Pulau Kur: Bumi Makarah di Laut Banda

Di ujung barat Kota Tual, tersembunyi di antara luasnya Laut Banda, terdapat sebuah pulau kecil yang menyimpan kekayaan budaya dan sejarah Islam yang luar biasa.

Itulah Pulau Kur  sebuah pulau yang oleh masyarakatnya sendiri disebut sebagai Bumi Makarah, merepresentasikan tempat suci Mekah di tanah Arab.

Bahkan nama 'Kur' konon berasal dari nama kitab suci umat Islam, Al-Quran, yang kemudian dipersingkat oleh masyarakat setempat.

Penamaan ini mencerminkan betapa kentalnya pengaruh Islam yang dibawa oleh para penyiar agama dari tanah Arab sejak berabad-abad silam.

Pulau ini secara geografis termasuk dalam Kecamatan Pulau-Pulau Kur, Kota Tual, Provinsi Maluku, dan merupakan wilayah terluar dengan akses yang terbatas.

Untuk menjangkaunya dari Ambon, perjalanan dapat dilakukan dengan transportasi udara menuju Bandara Karel Sasisubun di Langgur, dilanjutkan dengan kapal cepat sekitar tiga jam.

Apa Itu Hoer Findamar?

Hoer Findamar  yang berarti Perahu Ramadan  adalah sebuah ritual adat yang bernafaskan Islam dan memiliki nilai kesakralan mendalam dalam kehidupan masyarakat Pulau Kur.

Dalam bahasa lokal, 'hoer' berarti perahu dan 'findamar' merujuk pada Ramadan, bulan suci umat Islam.

Ritual ini bukan sekadar tradisi biasa. Ia merupakan napak tilas perjalanan Imam Sina, penyiar Islam pertama yang diyakini tiba di Pulau Kur tepat pada tanggal 26 Ramadan, malam 27 Ramadan  malam yang diyakini sebagai Lailatul Qadar, malam seribu bulan, di mana Allah SWT menurunkan rahmat-Nya ke bumi.

Ritual
BPKW XX MALUKU - Para tokoh adat dan imam memimpin doa dan ritual sebelum pelepasan perahu ke laut.


Proses dan Tahapan Tradisi

Persiapan Hoer Findamar dimulai sejak awal Ramadan. Masyarakat bersama-sama memasuki hutan untuk menebang kayu pule atau yang dikenal dengan nama lokal Ka Yangar (kayu susu).

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved