Maluku Terkini

Sejarah Mencatat, 396 Tahun Lalu Gempa Megathrust 8,4 Magnitudo dan Tsunami Dahsyat Guncang Banda

Tepat 396 tahun yang lalu, sebuah gempa bumi berkekuatan diperkirakan 8,4 Magnitudo mengguncang Laut Banda.

Juna Putuhena
MALUKU: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, menaikkan status Gunung Api Banda di Kabupaten Maluku Tengah, Kepulauan Maluku dari Normal menjadi Waspada (Level II). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Tanggal 1 Agustus 1629 bukanlah sekadar tanggal biasa dalam sejarah, melainkan catatan kelam bencana alam dahsyat yang pernah mengguncang wilayah timur Indonesia. 

Tepat 396 tahun yang lalu, sebuah gempa bumi berkekuatan diperkirakan 8,4 Magnitudo mengguncang Laut Banda, disusul oleh gelombang tsunami raksasa yang menerjang Kepulauan Banda, Maluku.

Berdasarkan rekonstruksi ilmiah yang dilakukan para peneliti modern, pusat gempa megathrust ini diduga kuat berada di Seram Trough (Palung Seram).

Kawasan ini merupakan bagian dari sistem subduksi aktif di timur Indonesia.

Di mana lempeng Indo-Australia menumbuk ke bawah busur kepulauan Banda.

Analisis ini didukung oleh fakta bahwa meskipun Ambon, yang berjarak sekitar 230 km dari episentrum, merasakan guncangan gempa yang kuat, wilayah tersebut tidak mengalami tsunami. 

Ini memperkuat kesimpulan bahwa sumber gempa tidak berasal dari zona Tanimbar Trough seperti dugaan sebelumnya, melainkan dari sisi utara Laut Banda.

Baca juga: Longsor di Kei Besar, Bupati Malra Gercep Tinjau Lokasi Bencana 

Baca juga: Lebih Dari Seratus Jurnalis Maluku Papua Siap Berkompetisi di Anugerah Jurnalistik Pertamina 2025

Hanya dalam kurun waktu sekitar 30 menit setelah gempa, gelombang tsunami setinggi 15 hingga 16 meter menghantam pesisir Banda Neira dan sekitarnya. 

Catatan sejarah Belanda yang terangkum dalam jurnal ilmiah Natural Hazards (Setiyono et al., 2013) menyebutkan bahwa gelombang raksasa tersebut merusak wilayah antara Lonthor dan Naira.

Bencana itu mencabut pohon-pohon besar, dan menewaskan sedikitnya lima penduduk lokal.

Para peneliti dari berbagai lembaga, seperti ResearchGate dan SpringerLink (Major et al., 2011; Setiyono et al., 2013), memperkirakan gempa ini memiliki magnitudo antara 8,2 hingga 8,8 Mw, dengan skenario paling sesuai menunjukkan nilai tengah 8,4 Mw.

Studi geologi terbaru menunjukkan bahwa kawasan Seram Trough adalah zona "terkunci" (locked zone). 

Ini berarti, zona tersebut berpotensi menyimpan energi seismik besar yang dapat dilepaskan sewaktu-waktu dalam bentuk gempa megathrust.

Peristiwa gempa dan tsunami Banda 1629 bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah peringatan dini. 

Sejarah bencana ini menjadi pengingat nyata bahwa wilayah Indonesia bagian timur, khususnya Laut Banda, menyimpan potensi bahaya geologi yang sangat besar. 

Memahami sejarah ini menjadi kunci untuk lebih waspada dan siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana serupa di masa depan.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved