Kamis, 9 April 2026

SBB Hari Ini

Penularan Rabies Menyasar ke Kabupaten SBB, Total 291 Kasus

Dinas Kesehatan Kabupaten SBB mencatat ada 291 kasus penularan rabies di wilayah setempat.

Penulis: Kartika Djuna | Editor: Mesya Marasabessy
tribun Bali
Ilustrasi Anjing Rabies - Bocah 6 Tahun di Tabanan Diserang Anjing Rabies, Menderita Luka Gigitan di Lengan hingga Jari. 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Kartika Djuna

SBB, TRIBUNAMBON.COM – Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) mencatat ada 291 kasus penularan rabies di wilayah setempat.

Jumlah itu terhitung sejak 1 Januari hingga 6 Mei 2025.

"Kita di SBB justru lebih dulu membentuk Tim Penanggulangan Rabies sejak 19 Maret 2025 melalui SK Nomor 100.3.3.2-411," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan SBB, Hasbi AB saat ditemui di Piru, Selasa (6/5/2025).

Dijelaskan, tim yang dibentuk melibatkan berbagai pihak lintas sektor, mulai dari Sekretaris Daerah (Sekda) hingga aparat militer dan keamanan.

Hal ini dilakukan untuk memperkuat respons terhadap potensi penyebaran rabies yang bukan hanya mengancam wilayah kota, tetapi juga pedesaan.

Dinkes SBB juga telah memetakan wilayah rawan dengan menetapkan lima puskesmas sebagai pusat penanganan rabies.

Baca juga: Pengelolaan Dana Desa Belum Maksimal, Komisi I DPRD SBB Minta Camat dan DPMD Lebih Aktif Lagi

Baca juga: Terlambat Lapor, Komisi I DPRD SBB Minta Kejaksaan Usut Pengelolaan APBD 2024 di Desa Bermasalah

Yakni Puskesmas Inamosol, Kairatu, Lesibata, Buria, dan Elpaputih. 

Sementara warga sekitar Piru diarahkan langsung ke Dinas Kesehatan untuk mendapatkan layanan vaksinasi.

“Kalau untuk daerah sekitar Piru, semua pelayanan diarahkan ke Dinas Kesehatan langsung,” kata Hasbi.

Dinkes juga terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, terutama dalam hal pengadaan Vaksin Anti-Rabies (VAR). 

Namun, Hasbi mengingatkan bahwa ketersediaan vaksin tidak akan cukup jika masyarakat masih abai terhadap pengelolaan hewan peliharaan mereka.

“Rata-rata 99 persen masyarakat yang datang suntik itu karena tergigit anjing peliharaan sendiri, bukan anjing liar. Jadi kita selalu tanya mereka, mau sayang diri atau sayang anjing? Kalau sayang diri, anjing harus dibunuh atau dirantai,” tegasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved