Cerita Fredy Fernando Loumaly, Rela Jalan Kaki 11 Jam Demi Mengajar Siswa di Pegunungan Seram Utara
Fredy adalah Kepala SD Negeri 355 Maluku Tengah, sebuah sekolah yang baru mengantongi izin operasional pada Desember 2024 lalu.
Penulis: Silmi Sirati Suailo | Editor: Tanita Pattiasina
MALTENG, TRIBUNAMBON.COM – Ketika kebanyakan guru di kota mengeluhkan macet menuju sekolah, Fredy Fernando Loumaly justru harus menembus belantara dan menyeberangi empat sungai besar demi bisa sampai ke ruang kelasnya—yang ironisnya bukanlah bangunan sekolah, melainkan rumah warga.
Fredy adalah Kepala SD Negeri 355 Maluku Tengah, sebuah sekolah yang baru mengantongi izin operasional pada Desember 2024 lalu.
Sekolah ini berada di Desa Hatuolo, Kecamatan Seram Utara, Maluku Tengah—sebuah desa terpencil yang hanya bisa diakses dengan berjalan kaki selama kurang lebih 11 jam dari Desa Kaloa.
Medan yang dilalui bukan jalan biasa.
Hutan lebat, sungai-sungai besar tanpa jembatan, dan bukit terjal menjadi tantangan sehari-hari.
Baca juga: Potret Pendidikan di Pegunungan Seram Utara: Guru Jalan Kaki 11 Jam, Siswa Belajar di Rumah Warga
Baca juga: Kepala Mata Rumah Hatulesila Minta Pemkot Ambon Tetapkan Raja Definitif Negeri Rumah Tiga
Belum lagi cuaca ekstrem yang sewaktu-waktu bisa menghambat perjalanan.
Masyarakat juga bisa menggunakan jasa tukang ojek dari beberapa desa di pesisir Seram Utara diantaranya, Desa Pasahari, Desa Saitele, dan Desa Wahai.
Namun harus merogoh kocek Rp 300 ribu sekali jalan.
Itupun hanya setengah perjalanan karena diturunkan pada pemberhentian terakhir akses kendaraan, tepat di Desa Kaloa.
“Saya biasa turun ke pesisir setiap tiga bulan sekali. Sekali jalan pulang-pergi bisa habis Rp1,2 juta,” kata Fredy kepada TribunAmbon.com, Kamis (10/4/2025).
Sekolah Tanpa Gedung, Anak Belajar di Rumah Warga
Desa Hatuolo dihuni oleh sekitar 32 kepala keluarga.
Sejak lama, warga desa ini memimpikan hadirnya sekolah formal di kampung mereka.
Impian itu akhirnya mulai terwujud dengan diterbitkannya izin operasional SDN 355.
Namun hingga saat ini, gedung sekolah belum berdiri.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.