Cerita Fredy Fernando Loumaly, Rela Jalan Kaki 11 Jam Demi Mengajar Siswa di Pegunungan Seram Utara
Fredy adalah Kepala SD Negeri 355 Maluku Tengah, sebuah sekolah yang baru mengantongi izin operasional pada Desember 2024 lalu.
Penulis: Silmi Sirati Suailo | Editor: Tanita Pattiasina
Proses belajar mengajar dilakukan di salah satu rumah warga yang secara sukarela dijadikan ruang kelas darurat.
“Kami baru punya dua rombongan belajar. Ada 17 anak yang terdaftar. Tapi karena belum ada guru cukup, dua guru honorer yang bantu tamatan SMA,” ujar Fredy.

Fredy tidak sendiri.
Ia dibantu dua pemuda desa tamatan SMA untuk mengajar siswa-siswa di desa tersebut.
Mereka bekerja tanpa pamrih demi memastikan anak-anak desa tetap bisa membaca, menulis, dan berhitung.
“Dulu, sebelum saya ditugaskan, siswa di sini sempat belajar pakai sistem jarak jauh.
Tapi akhirnya terhenti karena tidak ada guru yang bisa datang secara rutin,” kisahnya.
Bangunan Sekolah Hasil Swadaya Warga
Melihat semangat para siswa dan keterbatasan sarana, masyarakat Desa Hatuolo tak tinggal diam.
Mereka bergotong royong membangun sekolah darurat dari kayu dan bahan seadanya.
“Pembangunan masih dalam proses. Ini murni inisiatif masyarakat karena kami tidak mungkin menunggu terlalu lama,” tambah Fredy.
Masyarakat berharap pemerintah segera membantu pembangunan gedung sekolah yang layak agar proses belajar mengajar berjalan lebih optimal.
Saat ini, pihak sekolah masih dalam tahap pengurusan Dapodik (Data Pokok Pendidikan) sebagai syarat agar dapat menerima bantuan operasional sekolah (BOS).
“Tahun ini kami belum bisa dapat dana BOS. Mungkin baru tahun 2026 kalau data Dapodik sudah masuk dan diterima pusat,” jelas Fredy.
Harapan dari Ujung Negeri
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.