Ortu Ngamuk di Sekolah
Ternyata Istri Polisi di Ambon Ngamuk gegara Anaknya Demam dan Muntah Usai Diimunisasi
Istri anggota Polda Maluku, Hilda Talahutu mengamuk di SD Xaverius Ambon gegara anaknya diimunisasi tanpa izin.
Penulis: Tanita Pattiasina | Editor: Salama Picalouhata
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Tanita Pattiasina
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Istri anggota Polda Maluku, Hilda Talahutu mengamuk di SD Xaverius Ambon gegara anaknya diimunisasi tanpa izin.
Emosi Hilda semakin memuncak lantaran anaknya masuk rumah sakit pascaimunisasi itu.
Hilda mengatakan anaknya diimunisasi rubella pada Rabu (27/9/2023).
Sepulang dari sekolah, anaknya mulai mengalami demam hingga muntah-muntah
Ditambah, dia sempat mendengar kalimat kasar yang diungkapkan oknum guru saat itu sehingga membuat dia semakin emosi.
"Yg bikin beta (saya) ngamuk itu, hati seorang ibu saja pak, beta datang mau tanya saja kenapa tanpa sepengetahuan beta anak ini sudah suntik. Beta tahu karena beta telpon anak yang di SMP Xaverius ini dia bilang su suntik. Nah itu beta datang itu. Lalu dengan oknum ini bicara marah-marah "mangkali (mungkin) ana (anak) su mati" nah itu yang beta banting helm. Karena beta emosi. Oknum-oknum guru, yang rame-rame itu (bicara kasar)," kata Talahatu, di rumahnya, Senin (2/10/2023).
Baca juga: Vaksinasi Berujung Ortu Ngamuk di Sekolah, Wattimena: Mungkin Kurang Sosialisasi
Diakuinya, ada pemberitahuan imunisasi Rubella pada Grup kelas sehari sebelum imunisasi, yakni pada Selasa (26/9/2023) sekitar pukul 11.00 WIT.
Namun ia tak memperhatikan pesan tersebut.
Kemudian ada pula pesan imunisasi di Hari Rabu (27/9/2023).
Namun, dia baru melihat pesan tersebut dan langsung merespon untuk tak mengimunisasi anaknya.
Pesan tersebut direspon sekitar pukul 09.56 WIT, dimana saat itu pesan tersebut tak dibaca guru.
Talahatu mengaku sudah berulang kali mencoba menghubungi guru namun hp guru tak aktif.
Sehingga ia lantas menghubungi salah seorang anaknya yang bersekolah di SMP Xaverius untuk meneruskan larangan tersebut.
Namun sayangnya anak tersebut sudah diimunisasi.
Pihaknya menyayangkan tindakan sekolah yang langsung mengizinkan anaknya yang masih di kelas 1 itu tanpa izin langsung dia selaku orang tua.
Dia juga menegaskan tak ada kekerasan fisik saat dia mengamuk.
"Ternyata anak kami telah selesai divaksinasi rubella tanpa seijin kami selaku orang tua, apakah dengan kami terlambat merespon pesan WA grup tersebut lalu guru dengan seenaknya mengijinkan anak kami di vaksinasi tanpa persetujuan kami orang tua??," tegasnya.
Ditegaskannya, selaku orang tua, pihaknya sangat mendukung program pemerintah dalam rangka imunisasi rubella kepada anak.
Namun, pihak sekolah juga harus melakukan sosialisasi dengan orang tua.
Sekaligus menghadirkan tenaga kesehatan untuk menjelaskan tentang imunisasi tersebut agar orang tua juga paham dan mengerti.
Apalagi anaknya ini memiliki riwayat tipes dan asma, sehingga sebagai orang tua dia khawatir dan ingin berkonsultasi terlebih dahulu.
"Kami tidak mendapat pemberitahuan dari pihak sekolah, apabila ada pemberitahuan kepada kami, kami pasti dampingi anak kami kemudian kami juga ingin konsultasi sama dokter terkait anak kami yang pernah mengalami sakit Tives dan Asma, apakah bisa di vaksinasi rubella ataukah tidak ?? kalau dokter sampaikan bisa, kami orang tua tetap bersedia untuk anak kami divaksinasi," tegasnya.
Dijelaskannya, setelah pulang ke rumah pasca imunisasi anaknya demam dan muntah-muntah.
Sehingga pada Jumat pagi masih lemas dan dilarikan ke Rumah Sakit.
"Dia kan posisi sekolah pagi belum makan apa-apa dari rumah, cuma minum air putih seteguk. Lalu pulangnya dia panas, muntah-muntah. Karena kami urusan dengan polda yang mereka lapor jadi kami titip dia di nenek rumah. Sambil ke Polda, jumat kemarin dia loyo setengah mati. Langsung pigi rumah sakit. Ini kata dokter harus cepat infus dan kasih tindakan medis. Di Rawat 1 hari lebih.. kalau keterangan dokter belum ada," tambahnya.
Lanjutnya, sebagai orang tua dia juga menyesalkan pihak sekolah padahal 3 anaknya bersekolah di Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Amboina.
Talahatu menyesalkan tak ada sosialisasi terlebih dahulu, izin langsung sebelum imunisasi.
Serta dia langsung dikeluarkan secara sepihak dari grup kelas.
Dia juga mendengar ancaman guru yang akan demo bila tidak mengeluarkan anak-anaknya dari sekolah.
"Suami saya juga datang ke sekolah bukan kapasitasnya sebagai Polisi melainkan kapasitasnya sebagai orang tua murid. Ada satu hal juga yang kami sangat sesalkan yakni perkataan Oknum Wakil Kepala Sekolah bersama beberapa guru yang menyatakan bahwa “kalau anak kami tidak dikeluarkan dari sekolah Xaverius maka guru akan melakukan demo” kami jadi bertanya – tanya kenapa harus anak – anak kami yang dikeluarkan mengingat anak kami 3 orang yang sekolah di kawasan Xaverius, apakah kesalahan seluruhnya ada pada kami, apakah dalam hal ini pihak sekolah tidak bersalah ?," tegasnya.
Sementara itu terkait pelaporan ke Polisi, pihaknya tak masalah dan akan melaporkan sekolah juga.
*Klarifikasi Sekolah*
Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Amboina yang menaungi SD Xaverius 1A buka suara terkait video viral oknum Ibu Bhayangkari ngamuk di Sekolah.
Sekretaris Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Amboina, John Dumatubun dalam klarifikasinya mengatakan Imunisasi Rubella merupakan program Nasional oleh pemerintah berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan melalui Sekolah.
Imunisasi Rubella rutin dilakukan tiap tahunnya dan dilakukan oleh dokter.
“Terkait dengan peristiwa yang terjadi pada hari Rabu kemarin maka baru pada kesempatan ini dari pihak yayasan memberikan pernyataan. Yang pertama perlu diluruskan dulu. Istilah vaksin tidak ada, imunisasi bukan vaksinasi. akibatnya apa begitu viral, karena kata vaksin ini kan agak sedikit alergi karena kita punya pengalaman Covid-19. Padahal ini kan imunisasi, program nasional pemberian imunisasi rubella itu program nasional yang sudah dijalankan tahun-tahun sebelumnya dan berhenti pada saat covid-19 dan itu dilanjutkan lagi,” kata Dumatubun di Ruang Guru SD Xaverius A1 Ambon, Jumat (30/9/2023).
Sementara itu, pihaknya juga menyayangkan tindakan orang tua murid yang malah mengamuk dan menganiaya guru.
Apalagi orang tua laki merupakan anggota Propam Polda Maluku.
Menurutnya, bila ada kesalahan harus dibicarakan baik-baik bukan melakukan kekerasan fisik kepada tenaga pendidik.
“Prinsipnya kami menyesali tindakan ini terjadi. Seharusnya, ibu datang baik-baik dan bicara. Kalau memang ada kesalahan prosedural itu bicara baik-baik, bukan tindakan seperti kemarin itu. Itu bukan tindakan seorang Ibu, apalagi yang kami sesali suaminya seorang Polisi apalagi bidang Propam lagi tidak bisa memberikan edukasi yang baik kepada ibu, malah melakukan perbuatan tidak menyenangkan yang kekerasan fisik bahkan sampai ancaman, ini tidak benar,” tambahnya.
Dijelaskannya, pihak sekolah melalui guru telah menginformasikan kepada orang tua murid melalui WhatsApp Grup kelas sehari hari sebelumnya.
Bahkan di pagi hari sebelum pemberian imunisasi pun sekolah kembali mengingatkan orang tua murid.
Sejumlah orang tua murid lainnya pun aktif bertanya, termasuk ada yang langsung memberitahukan informasi anak yang tak boleh diimunisasi.
Sementara oknum orang tua ini baru memberitahukan setelah imunisasi selesai.
Pihaknya pun menyayangkan sikap mereka, apalagi ngamuk dan menganiaya guru. Pasalnya, akibat oknum orang tua ini sejumlah peserta didik lainnya mengalami trauma.
Saat ini, lanjutnya, pihak sekolah telah melaporkan ke jalur hukum. Yayasan maupun Keuskupan akan mendukung penuh dan mengawal kasus kekerasan fisik hingga pengancaman ini sampai tuntas.
“Proses ini harus dituntaskan sesuai dengan jalur hukum yang berlaku. sekali lagi saya ulangi proses ini harus diselesaikan sesuai dengan jalur hukum yang berlaku. Menurut informasi sudah sampai -tingkat Polda dan biarlah proses itu berjalan terus untuk diselesaikan. Kalau memang dalam prosedur itu ada kesalahan yang dibuat oleh sekolah, kita akan ambil tindakan. Tapi kalau khusus untuk tindakan ibu dan bapak itu kita akan proses secara hukum. Karena satu perbuatan tidak menyenangkan, yang kedua itu kekerasan fisik, dan Ketiga tuh pencemaran nama baik dan Lalu ada ancaman. Pihak Yayasan tidak akan tinggal diam. Bahkan pihak keuskupan proses. Tidak ada damai, sebagai orang beriman kita memaafkan tapi proses hukum tetap berjalan terus. Ancaman terhadap guru, saksi korban, setelah itu dalam berita pengaduan yang sudah di kirim ke SPKT dan instansi terkait,” tandasnya.
Sementara itu, Guru Lidya Toisutta menjelaskan Orang Tua laki-laki yang merupakan anggota Propam Polda Maluku naik ke kelas sambil marah-marah.
Sementara dalam ruangan kelas penuh anak kelas 1 yang sementara belajar.
Oknum orang tua ini menarik anaknya langsung turun ke lantai 1 tanpa berhenti ngamuk.
“Marah-marah ke Saya lalu tunjuk-tunjuk saya, ancam saya bahwa apabila terjadi sesuatu ke anaknya akan melaporkan saya dan menuntut saya beserta sekolah ini. Terus turun ke lantai 1 marah-marah dibawah, saya turun bersama dengan suaminya yang marah. Saya turun ke bawah mau menjelaskan saya sudah kasi informasi di Wa Grup tapi tidak ditanggapi saya masih marah-marah terus,” kata Toisutta saat dikonfirmasi, Jumat (30/9/2023).
Tak cukup sampai disitu, Isterinya yang merupakan Ibu Bhayangkari ini ikut ngamuk bahkan membanting helm.
Oknum orang tua perempuan ini juga menarik baju guru, mencengkram lengan Guru dan mendorong hingga terbentur ke pintu masuk ruang Kepala Sekolah.
“Tiba-tiba suara semakin keras, semakin mengamuk, semakin menjadi-jadi maka munculah istrinya lalu membanting helm lalu menyerang saya. Saya coba untuk menenangkannya untuk menjelaskannya, tapi tidak diterima terus menarik baju saya sampai sobek, terus mencekik (mencengkram) saya dari sini (di lengan) saya dengan kuat sekali lalu terus menarik saya mendorong saya lalu balik tarik ulang lalu banting saya. Lalu saya terbentur terkena tembok pintu mau masuk ke ruangan Kepala Sekolah,” jelasnya.
lanjutnya saat oknum orang tua ini sementara mengamuk, dirinya mencoba menenangkan dan menjelaskan telah memberitahukan informasi Imunisasi Rubella di grup WA kelas.
Tak hanya sekali, tapi dua kali, yakni dua hari sebelum dan pagi hari sebelum Imunisasi.
Pihaknya mengaku saat apel pagi HP nya dalam kondisi lemah, sehingga komunikasi lanjutan dengan orang tua murid lewat hp temannya.
Orang tua lainnya aktif berkomunikasi dengan dirinya.
Sementara, oknum orang tua ini baru menginformasikan anaknya tak boleh diimunisasi setelah imunisasi telah dilakukan.
“Terus habis itu baterai saya lowbath total mati dan saya pinjam hp teman saya untuk pantau jangan sampai ada pemberitahuan di grup tapi tidak ada. Lalu keluar main (istirahat), saya kembalikan hp teman saya. Masuk lagi, saya dengan ibu Wenno mempersiapkan anak-anak untuk Puskesmas Imunisasi. Tapi ada orang tua murid bilang ada WA tapi anaknya orang tua tersebut, tapi saya tidak tahu, tapi sudah selesai imunisasi baru orang tua chat masuk,” jelasnya.
Lanjutnya, imbas orang tua ngamuk, para peserta didik lainnya menangis dan ketakutan.
Bahkan beberapa diantaranya izin karena masih trauma melihat sikap orang tua murid tersebut.
“Semua murid masih di kelas, mereka menangis, histeris. ada videonya. Menangis itu bukan berarti mereka menangis itu bukan karena takut imunisasi tapi mereka takut karena ancaman dan suara yang sangat besar. Mereka menangis histeris karena takut, trauma. Dan dari ketakutan itulah membuat anak-anak hampir 10 orang lebih tidak mau masuk sekolah,” imbuhnya.
Ricuh di SD Xaverius Berakhir Damai, Yayasan Cabut Laporan Polisi |
![]() |
---|
Disdik Ambon Pastikan Kedepan Wajib Lampirkan Surat Persetujuan Orang Tua saat Anak Mau Diimunisasi |
![]() |
---|
Persoalan Imunisasi Berujung Ortu Ngamuk di SD Xaverius Ambon Berakhir Damai |
![]() |
---|
DPRD Ambon Bakal Panggil Disdik dan Pihak Sekolah Terkait Imunisasi Anak Berujung Ortu Ngamuk |
![]() |
---|
Ortu Murid yang Ngamuk dan Aniaya Guru SD Xaverius Ambon Dilaporkan ke Polisi |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.