Ortu Ngamuk di Sekolah

Ortu Ngamuk dan Aniaya Guru SD Xaverius Ambon Bikin Siswa Trauma

Sejumlah peserta didik alami trauma dan meminta izin tak masuk kelas di SD Xaverius 1A Ambon pada Jumat (29/9/2023) kemarin.

Tanita
SD Xaverius Ambon 

Lanjutnya, imbas orang tua ngamuk, para peserta didik lainnya menangis dan ketakutan.

Bahkan beberapa diantaranya izin karena masih trauma melihat sikap orang tua murid tersebut.

“Semua murid masih di kelas, mereka menangis, histeris. ada videonya. Menangis itu bukan berarti mereka menangis itu bukan karena takut imunisasi tapi mereka takut karena ancaman dan suara yang sangat besar. Mereka menangis histeris karena takut, trauma. Dan dari ketakutan itulah membuat anak-anak hampir 10 orang lebih tidak mau masuk sekolah,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Amboina, RD Agus Arbol dalam klarifikasinya menyesalkan tindakan orang tua murid yang melakukan kekerasan terhadap guru di lingkungan sekolah.

Seharusnya bila ada kesalahan guru maka dibicarakan dengan baik bukan dengan amukan dan kekerasan fisik.

Apalagi sikap mereka berimbas kepada sejumlah anak yang trauma.

Selain itu, Imunisasi Rubella merupakan program Nasional oleh Pemerintah melalui Dinas Kesehatan dan berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan melalui sekolah.

Imunisasi juga membantu membentuk kekebalan tubuh anak untuk mencegah penyakit campak, gondongan, dan rubella.

“Jadi yang pertama kan sebagai ketua Yayasan kita kita menyesali tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua murid kepada guru. Maksud baik tapi kalau caranya tidak baik maka tentu tujuan tidak bisa tercapai. dan mungkin maksud orang tua itu baik tetapi cara mereka menyelesaikannya dengan guru itu kan tidak baik, ada kekerasan, verbal kata-katanya kan kurang terpuji ya kepada gurunya lalu tindakan-tindakan juga mencederai anak-anak,” tambahnya.

Lanjutnya, saat ini pihak sekolah telah melaporkan ke Kepolisian. Langkah ini pun didukung penuh oleh Yayasan maupun Keuskupan.

“Yang suntik itu profesional dokter dan dokter kan memberi Setiap anak, anak ini boleh atau tidak, Kalau tidak mungkin suntik. dan ternyata Sampai detik ini kan tidak ada anak yang masalah. Cuma masalahnya beliau dua itu tidak memberikan spasi kepada yayasan untuk menjelaskan, ini yang kita sayangkan. Dia marah dan Oke kita paham tapi kan mesti menjelaskan kenapa sampai seperti itu. hanya kita memfasilitas program puskesmas ke sekolah, kan semua anak yang direstui oleh orang tua kan tidak apa-apa. Kan dokter lebih tahu. Lalu terhadap, inikan guru sudah laporkan soal kekerasan terhadap guru tidak baik,” tandasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved