Ortu Ngamuk di Sekolah

Ortu Ngamuk dan Aniaya Guru SD Xaverius Ambon Bikin Siswa Trauma

Sejumlah peserta didik alami trauma dan meminta izin tak masuk kelas di SD Xaverius 1A Ambon pada Jumat (29/9/2023) kemarin.

Tanita
SD Xaverius Ambon 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Tanita Pattiasina

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Sejumlah peserta didik alami trauma dan meminta izin tak masuk kelas di SD Xaverius 1A Ambon pada Jumat (29/9/2023) kemarin.

Hal ini imbas kejadian oknum orang tua murid ngamuk dan melakukan kekerasan fisik kepada tenaga pendidik pada Rabu (27/9/2023) lalu.

Pasalnya orang tua murid laki yang merupakan anggota Propam Polda Maluku marah-marah di kelas di saksikan peserta didik yang masih kelas 1 SD.

Sementara Isterinya mengamuk dan melakukan kekerasan fisik di lantai 1 sekolah, hal ini juga turut disaksikan oleh peserta didik dan orang tua lainnya.

Guru SD Xaverius 1A Ambon, Lidya Toisutta mengatakan saat kejadian anak-anak menangis histeris. Para orang tua akhirnya meminta izin untuk tak masuk sekolah.

Baca juga: KLARIFIKASI SD Xaverius Ambon Terkait Ortu Aniaya Guru di Sekolah

“Semua murid masih di kelas, mereka menangis, histeris. ada videonya. Menangis itu bukan berarti mereka menangis karena takut imunisasi tapi mereka takut karena ancaman dan suara yang sangat besar. Mereka menangis histeris karena takut, trauma. Dan dari ketakutan itulah membuat anak-anak hampir 10 orang lebih tidak mau masuk sekolah,” kata Toisutta kepada wartawan di Ruang Guru, Sabtu (30/9/2023).

Sementara itu, menanggapi hal ini Sekretaris Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Amboina, John Dumatubun mengatakan sekolah akan melakukan kegiatan bersifat trauma healing untuk mengatasi hal ini.

Sementara itu, pasca kejadian anak-anak lainnya masih sehat dan senang.

“Nanti kita akan bikin kegiatan-kegiatan yang sifatnya trauma healing, kegiatan seperti itu. Tapi saya mau garis bawahi perkataan ibu guru tadi anak-anak happy aja setelah imunisasi. Saya kutip pernyataan Penjabat Wali Kota bahwa Imunisasi Rubella ini kan program Nasional bukan kita kasih racun untuk anak kita. Jadi perlu kita memberikan pencerahan kepada masyarakat bahwa Imunisasi ini penting untuk anak,” kata Dumatubun.

 

*Kronologis Guru Mengamuk*

Guru SD Xaverius 1A Ambon dianiya oknum orang tua murid di lingkungan sekolah, Jalan Raya Pattimura, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, pada Rabu (30/9/2023).

Oknum orang tua yang merupakan anggota Propam Polda Maluku ini dan isterinya ngamuk di sekolah.

Bahkan melakukan kekerasan fisik terhadap Guru Lidya Toisutta.

Penganiayaan ini imbas orang tua tak terima anaknya telah diimunisasi Rubella tanpa pemberitahuan.

Sementara pihak sekolah telah memberitahukan dua hari sebelumnya dan di hari H penyuntikan Imunisasi.

Guru Lidya Toisutta mengatakan Orang Tua laki-laki yang merupakan anggota Propam Polda Maluku naik ke kelas sambil marah-marah.

Sementara dalam ruangan kelas penuh anak kelas 1 yang sementara belajar.

Oknum orang tua ini menarik anaknya langsung turun ke lantai 1 tanpa berhenti ngamuk.

“Marah-marah ke Saya lalu tunjuk-tunjuk saya, ancam saya bahwa apabila terjadi sesuatu ke anaknya akan melaporkan saya dan menuntut saya beserta sekolah ini. Terus turun ke lantai 1 marah-marah dibawah, saya turun bersama dengan suaminya yang marah. Saya turun ke bawah mau menjelaskan saya sudah kasi informasi di Wa Grup tapi tidak ditanggapi saya masih marah-marah terus,” kata Toisutta saat dikonfirmasi, Jumat (30/9/2023).

Tak cukup sampai disitu, Isterinya yang merupakan Ibu Bhayangkari ini ikut ngamuk bahkan membanting helm.

Oknum orang tua perempuan ini juga menarik baju guru, mencengkram lengan Guru dan mendorong hingga terbentur ke pintu masuk ruang Kepala Sekolah.

“Tiba-tiba suara semakin keras, semakin mengamuk, semakin menjadi-jadi maka munculah istrinya lalu membanting helm lalu menyerang saya. Saya coba untuk menenangkannya untuk menjelaskannya, tapi tidak diterima terus menarik baju saya sampai sobek, terus mencekik (mencengkram) saya dari sini (di lengan) saya dengan kuat sekali lalu terus menarik saya mendorong saya lalu balik tarik ulang lalu banting saya. Lalu saya terbentur terkena tembok pintu mau masuk ke ruangan Kepala Sekolah,” jelasnya.

lanjutnya saat oknum orang tua ini sementara mengamuk, dirinya mencoba menenangkan dan menjelaskan telah memberitahukan informasi Imunisasi Rubella di grup WA kelas.

Tak hanya sekali, tapi dua kali, yakni dua hari sebelum dan pagi hari sebelum Imunisasi.

Pihaknya mengaku saat apel pagi HP nya dalam kondisi lemah, sehingga komunikasi lanjutan dengan orang tua murid lewat hp temannya.

Orang tua lainnya aktif berkomunikasi dengan dirinya.

Sementara, oknum orang tua ini baru menginformasikan anaknya tak boleh diimunisasi setelah imunisasi telah dilakukan.

“Terus habis itu baterai saya lowbath total mati dan saya pinjam hp teman saya untuk pantau jangan sampai ada pemberitahuan di grup tapi tidak ada. Lalu keluar main (istirahat), saya kembalikan hp teman saya. Masuk lagi, saya dengan ibu Wenno mempersiapkan anak-anak untuk Puskesmas Imunisasi. Tapi ada orang tua murid bilang ada WA tapi anaknya orang tua tersebut, tapi saya tidak tahu, tapi sudah selesai imunisasi baru orang tua chat masuk,” jlasnya.

Lanjutnya, imbas orang tua ngamuk, para peserta didik lainnya menangis dan ketakutan.

Bahkan beberapa diantaranya izin karena masih trauma melihat sikap orang tua murid tersebut.

“Semua murid masih di kelas, mereka menangis, histeris. ada videonya. Menangis itu bukan berarti mereka menangis itu bukan karena takut imunisasi tapi mereka takut karena ancaman dan suara yang sangat besar. Mereka menangis histeris karena takut, trauma. Dan dari ketakutan itulah membuat anak-anak hampir 10 orang lebih tidak mau masuk sekolah,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Amboina, RD Agus Arbol dalam klarifikasinya menyesalkan tindakan orang tua murid yang melakukan kekerasan terhadap guru di lingkungan sekolah.

Seharusnya bila ada kesalahan guru maka dibicarakan dengan baik bukan dengan amukan dan kekerasan fisik.

Apalagi sikap mereka berimbas kepada sejumlah anak yang trauma.

Selain itu, Imunisasi Rubella merupakan program Nasional oleh Pemerintah melalui Dinas Kesehatan dan berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan melalui sekolah.

Imunisasi juga membantu membentuk kekebalan tubuh anak untuk mencegah penyakit campak, gondongan, dan rubella.

“Jadi yang pertama kan sebagai ketua Yayasan kita kita menyesali tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua murid kepada guru. Maksud baik tapi kalau caranya tidak baik maka tentu tujuan tidak bisa tercapai. dan mungkin maksud orang tua itu baik tetapi cara mereka menyelesaikannya dengan guru itu kan tidak baik, ada kekerasan, verbal kata-katanya kan kurang terpuji ya kepada gurunya lalu tindakan-tindakan juga mencederai anak-anak,” tambahnya.

Lanjutnya, saat ini pihak sekolah telah melaporkan ke Kepolisian. Langkah ini pun didukung penuh oleh Yayasan maupun Keuskupan.

“Yang suntik itu profesional dokter dan dokter kan memberi Setiap anak, anak ini boleh atau tidak, Kalau tidak mungkin suntik. dan ternyata Sampai detik ini kan tidak ada anak yang masalah. Cuma masalahnya beliau dua itu tidak memberikan spasi kepada yayasan untuk menjelaskan, ini yang kita sayangkan. Dia marah dan Oke kita paham tapi kan mesti menjelaskan kenapa sampai seperti itu. hanya kita memfasilitas program puskesmas ke sekolah, kan semua anak yang direstui oleh orang tua kan tidak apa-apa. Kan dokter lebih tahu. Lalu terhadap, inikan guru sudah laporkan soal kekerasan terhadap guru tidak baik,” tandasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved