Sabtu, 25 April 2026

‎BTN Manusela Benahi SOP Pendakian Gn Binaiya, Hanya Dibuka tuk Ekspedisi 

‎Berdasarkan evaluasi yang dilakukan secara nasional, Gunung Binaiya hanya dibuka tuk pendakian ekspedisi bukan lagi sebagai wisata pendakian. 

|
Istimewa/SILMI SIRATI
GUNUNG BINAIYA - Gunung Binaiya di Pulau Seram dilihat dari Negeri Tehoru, Maluku Tengah, Senin (2/2/2026) 
Ringkasan Berita:
  • BTN Manusela mengevaluasi SOP pendakian Gunung Binaiya dan menetapkan pendakian hanya dibuka untuk ekspedisi, bukan wisata.
  • Gunung Binaiya berstatus Grade IV (berat) dan hanya dapat didaki oleh pendaki berpengalaman dengan portofolio pendakian gunung selevel, serta wajib dilakukan secara berkelompok.
  • Pembenahan dilakukan pada SOP, sarana prasarana, kesiapan SAR, serta peningkatan kapasitas guide, porter, dan masyarakat lokal untuk meminimalkan risiko kecelakaan.

‎Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo 

‎MALTENG,TRIBUNAMBON.COM - Balai Taman Nasional (BTN) Manusela masih berbenah standar operasional prosedur (SOP) pendakian Gunung Binaiya.

‎Berdasarkan evaluasi yang dilakukan secara nasional, Gunung Binaiya hanya dibuka tuk pendakian ekspedisi bukan lagi sebagai wisata pendakian. 

‎Bukan tanpa sebab, hal tersebut dilatarbelakangi kejadian naas meninggalnya pendaki asal Bogor, Firdaus Ahmad Fauzi April 2025 lalu. 

Baca juga: Telkomsel Hadirkan Fitur Akumulasi Kuota di SIMPATI, Sisa Kuota Bisa Dipakai Bulan Berikutnya

Baca juga: Prakiraan Cuaca Senin 2 Ferbuari 2026: SebagianWilayah di Maluku Cerah Berawan dan Hujan Ringan

Gunung Binaiya (3.027 MDPL) ialah seven summits Indonesia, berada di Pulau Seram bersinggungan langsung dengan masyarakat adat di Negeri Piliana (Seram Bagian Selatan), dan Negeri Kanikeh (Seram Bagian Utara). 

‎Senin (2/2/2026), Kepala Balai TN Manusela, Deny Rahadi mengatakan, SOP  pendakian Gunung Binaiya secara nasional dilakukan evaluasi. 

‎Gunung Binaiya masuk dalam grade yang cukup berat tidak diperuntukkan untuk pemula yang sekedar fear of missing out (Fomo) dan buka pula untuk wisata pendakian. 

‎"Tujuannya hanya untuk ekspedisi yang akan kita buka. Ekspedisi tentunya harus rombongan. Dan pendaki-pendaki di Binaiya harus punya portofolio pernah mendaki di gunung grade IV," jelas Deny.

‎Ia menegaskan, kesulitan Gunung Binaiya satu level di bawah Gunung Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Papua dengan grade V (ekstrem).

‎Sementara Gunung Binaiya (3.027 MDPL) di Pulau Seram, Maluku, diklasifikasikan sebagai gunung dengan tingkat kesulitan Grade IV (Berat).

‎Selain berbenah dari sisi SOP,  pihaknya masih menunggu dukungan anggaran dari berbagai pihak terkait pembenahan sarana prasarana (Sarpras).

‎"Sarpras di Gunung Binaiya sangat minim. Apalagi papan petunjuk, papan larangan, memang ada tapi posisinya berubah arah, karena tanda petunjuk dipaku di pohon dan semakin pohon itu tumbuh maka (papan petunjuk) berubah arah," tuturnya.

‎Sarpras dimaksud termasuk alat-alat Search and Rescue (SAR) tuk operasi keselamatan, lantaran ada trek yang cukup terjal.

‎"Maka perlu disiapkan tali keselamatan, kita belum punya fasilitas pendukung, dua selter rusak dan dua Selter yang lain kondisinya jauh dari kata layak," ungkap Deny Rahadi.

‎Pihaknya juga menaruh perhatian tuk Sarpras mitigasi kecelakaan dengan membangun selter emergency tuk evakuasi keadaan darurat, kecelakaan pengunjung, maupun pendaki yang mengalami hipotermia.

‎Menjadi PR lainnya yakni kapasitas masyarakat yang masih jauh dari standar kualifikasi guide dan porter profesional.

‎Maka dari itu, BTN Manusela bakal bekerja sama dengan lembaga profesional dan pelaku petualangan outdoor tuk meningkatkan kapasitas SDM.

‎"Mereka harus memiliki standar sertifikasi melalui uji kompetensi dalam rangka meningkatkan kompetensi sebagai porter," tukasnya 

‎Pembenahan lainnya yakni berkaitan dengan ketersediaan tim SAR, lantaran selama ini hanya ada satu Badan SAR namun berkedudukan di Ambon. Tentu hal itu  menjadi kendala dengan jarak tempuh 4-7 jam antar Kota Ambon dan kawasan Gunung Binaiya di Pulau Seram Maluku Tengah. 

‎Maka BTN Manusela juga berbenah tuk melatih masyarakat lokal dalam hal operasi keselamatan atau SAR. 

‎"Untuk evakuasi harus ada tim SAR kita punya Basarnas tapi kantornya di Ambon. Tentu terbatas, mereka bergerak minimal 4 atau 7 jam untuk sampai.
‎Kapasitas tim SAR punya kualifikasi dan spesialis SAR di laut bukan di gunung.
‎Kita upaya (beri pelatihan) bagaimana masyarakat bisa lakukan SAR," imbuh Deny Rahadi.

‎Deny Rahadi menuturkan, pembenahan berikut yang tak kalah penting adalah peningkatan kapasitas pengelola, membangun sistem, kemudian mengidentifikasi jalur pendakian yang lebih manusiawi. 

‎"Yang ke enam membangun sistem, bukan wisata pendakian tapi ekspedisi, wajib dalam SOP pernah mendaki di gunung grade III hingga grade IV baru bisa mendaki Binaiya. PR ke tujuh ialah mengidentifikasi jalur yang lebih manusiawi untuk minimalisir terjadinya resiko kecelakaan dan tersesat," pungkas Deny. (*)

Sumber: Tribun Ambon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved