Semua Tentang Sagu
Tak Sekadar Pangan Lokal, Sagu di Seram Bagian Timur Jadi Sumber Zakat
Menurut Aziz, sagu dipandang sah sebagai zakat karena merupakan makanan pokok masyarakat SBT, sama kedudukannya dengan beras di daerah lain.
Penulis: Haliyudin Ulima | Editor: Mesya Marasabessy
Ringkasan Berita:
- Masyarakat Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, masih mempertahankan tradisi lama yakni menunaikan zakat menggunakan sagu.
- Ketua Komisi I DPRD Kabupaten SBT, Abdul Aziz Yanlua, sagu dipandang sah sebagai zakat karena merupakan makanan pokok masyarakat SBT, sama kedudukannya dengan beras di daerah lain.
- Zakat sagu yang dibayarkan umumnya berbentuk sagu lemping berukuran besar, diikat rapi, lalu dibagikan kepada penerima zakat.
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Di tengah dominasi beras sebagai bahan zakat di berbagai daerah, masyarakat Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, masih mempertahankan tradisi lama: menunaikan zakat menggunakan sagu.
Ketua Komisi I DPRD Kabupaten SBT, Abdul Aziz Yanlua, mengatakan zakat sagu bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari identitas keagamaan dan budaya masyarakat setempat.
“Di Siwalalat dan beberapa wilayah SBT, zakat itu bukan cuma pakai beras. Zakat pakai sagu masih berlaku sampai sekarang,” ujarnya saat diwawancarai TribunAmbon.com di rumahnya, Minggu (4/1/2026).
Menurut Aziz, sagu dipandang sah sebagai zakat karena merupakan makanan pokok masyarakat SBT, sama kedudukannya dengan beras di daerah lain.
“Standar ukurannya sama dengan beras, nilainya juga sama, 2,5 persen. Bedanya hanya di bahan, bukan di nilai ibadahnya,” jelasnya.
Baca juga: Ini Motor Bergaya Naked Paling Keren Versi Komunitas CBR Ambon
Baca juga: Usai Nataru 2026, Harga Ayam Potong dan Daging Sapi Kembali Normal
Zakat sagu yang dibayarkan umumnya berbentuk sagu lemping berukuran besar, diikat rapi, lalu dibagikan kepada penerima zakat.
“Sagu zakat itu bukan sagu kecil. Sagu lemping besar, diikat, lalu dibawa ke masjid, ke guru mengaji, atau diberikan kepada janda dan masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Ia menyebut, tradisi tersebut sudah berlangsung sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun.
“Dulu almarhum orang tua-tua itu setiap zakat, tidak pakai beras, tapi zakatnya pakai sagu. Itu sudah lama sekali,” tandasnya.
Aziz menjelaskan, dalam praktiknya, masyarakat menyesuaikan jenis zakat dengan kondisi ekonomi dan peran sosial seseorang.
“Kalau anak-anak sekolah, SD, SMP, SMA, biasanya zakat pakai beras. Tapi kalau kepala keluarga, tokoh agama, guru mengaji, tokoh masyarakat, mereka banyak yang zakat pakai sagu,” bebernya.
Hal ini, menurutnya, menunjukkan keselarasan ajaran agama yang selaras dengan kearifan lokal.
| Sagu di Mata Anggota DPRD SBT Gafar Rumonin: Dewa Penyelamat Masyarakat |
|
|---|
| Sagu Dimata Anggota DPRD SBT Darwis Rumakey: Penyelamat Anak Negeri |
|
|---|
| Wabup Mario Tekankan Pentingnya Jajanan Lokal Berbahan Sagu: Itu Identitas Kita |
|
|---|
| 200 Lempeng Sagu per Loyang: Antara Harapan dan Perjuangan Para Ibu di Masohi |
|
|---|
| Sagu Dimata Ketua Komisi I DPRD SBT: Penopang Hidup Sekaligus Pengikat Emosional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Zakat-sagu-SBT.jpg)