Kamis, 4 Juni 2026

Semua Tentang Sagu

Tak Sekadar Pangan Lokal, Sagu di Seram Bagian Timur Jadi Sumber Zakat

Menurut Aziz, sagu dipandang sah sebagai zakat karena merupakan makanan pokok masyarakat SBT, sama kedudukannya dengan beras di daerah lain.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Haliyudin Ulima | Editor: Mesya Marasabessy
Istimewa
TENTANG SAGU - Bapak Ucu Kelian (Kanan), Bapak Muharam (Kiri), tampak mengolah sagu secara tradisional di Hutan Madoul, Desa Kwaos, Kecamatan Siritaun Wida Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). 

 

Ringkasan Berita:
  • Masyarakat Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, masih mempertahankan tradisi lama yakni menunaikan zakat menggunakan sagu.
  • Ketua Komisi I DPRD Kabupaten SBT, Abdul Aziz Yanlua, sagu dipandang sah sebagai zakat karena merupakan makanan pokok masyarakat SBT, sama kedudukannya dengan beras di daerah lain.
  • Zakat sagu yang dibayarkan umumnya berbentuk sagu lemping berukuran besar, diikat rapi, lalu dibagikan kepada penerima zakat.

 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Di tengah dominasi beras sebagai bahan zakat di berbagai daerah, masyarakat Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, masih mempertahankan tradisi lama: menunaikan zakat menggunakan sagu.

Ketua Komisi I DPRD Kabupaten SBT, Abdul Aziz Yanlua, mengatakan zakat sagu bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari identitas keagamaan dan budaya masyarakat setempat.

“Di Siwalalat dan beberapa wilayah SBT, zakat itu bukan cuma pakai beras. Zakat pakai sagu masih berlaku sampai sekarang,” ujarnya saat diwawancarai TribunAmbon.com di rumahnya, Minggu (4/1/2026).

Menurut Aziz, sagu dipandang sah sebagai zakat karena merupakan makanan pokok masyarakat SBT, sama kedudukannya dengan beras di daerah lain.

“Standar ukurannya sama dengan beras, nilainya juga sama, 2,5 persen. Bedanya hanya di bahan, bukan di nilai ibadahnya,” jelasnya.

Baca juga: Ini Motor Bergaya Naked Paling Keren Versi Komunitas CBR Ambon

Baca juga: Usai Nataru 2026, Harga Ayam Potong dan Daging Sapi Kembali Normal

Zakat sagu yang dibayarkan umumnya berbentuk sagu lemping berukuran besar, diikat rapi, lalu dibagikan kepada penerima zakat.

“Sagu zakat itu bukan sagu kecil. Sagu lemping besar, diikat, lalu dibawa ke masjid, ke guru mengaji, atau diberikan kepada janda dan masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Ia menyebut, tradisi tersebut sudah berlangsung sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun.

“Dulu almarhum orang tua-tua itu setiap zakat, tidak pakai beras, tapi zakatnya pakai sagu. Itu sudah lama sekali,” tandasnya.

Aziz menjelaskan, dalam praktiknya, masyarakat menyesuaikan jenis zakat dengan kondisi ekonomi dan peran sosial seseorang.

“Kalau anak-anak sekolah, SD, SMP, SMA, biasanya zakat pakai beras. Tapi kalau kepala keluarga, tokoh agama, guru mengaji, tokoh masyarakat, mereka banyak yang zakat pakai sagu,” bebernya.

Hal ini, menurutnya, menunjukkan keselarasan ajaran agama yang selaras dengan kearifan lokal.

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved