Sabtu, 25 April 2026

Semua Tentang Sagu

Sagu Dimata Anggota DPRD SBT Darwis Rumakey: Penyelamat Anak Negeri  

Sagu adalah saksi hidup perjuangan, penolong di masa sulit, dan penyelamat generasi anak negeri Maluku.

Penulis: Haliyudin Ulima | Editor: Fandi Wattimena
TribunAmbon.com/Haliyudin Ulima
TENTANG SAGU - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Darwis Rumakey saat diwawancarai Tribunambon.com di Kantor DPRD, Rabu (14/1/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Anggota DPRD Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Darwis Rumakey memaknai sagu lebih dari sekedar pangan lokal.
  • Disebutnya sagu seperti penopang hidup, terlebih saat masa kuliah. 

Laporan Wartawan Tribunambon.com, Haliyudin Ulima 

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Bagi Anggota DPRD Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Darwis Rumakey, sagu bukan sekadar pangan lokal. 

Sagu adalah saksi hidup perjuangan, penolong di masa sulit, dan penyelamat generasi anak negeri Maluku.

“Alhamdulillah, jujur saja, sagu ini makanan pokok yang membesarkan saya, apalagi masyarakat SBT,” ujarnya saat diwawancarai Tribunambon.com, Rabu (14/1/2026).

Baginya, sagu bukan hanya soal perut kenyang.

Dari batang sagu yang diolah secara sederhana, lahir harapan, pendidikan, dan masa depan anak-anak SBT.

“Sagu ini membantu orang tua-tua kita menyekolahkan anak-anaknya. Dia menopang kehidupan keluarga. Bagi saya pribadi, sagu adalah penyelamat anak negeri,” katanya.

Darwis mengenang masa-masa kuliah yang penuh keterbatasan. 

Baca juga: ‎Wabup Mario Tekankan Pentingnya Jajanan Lokal Berbahan Sagu: Itu Identitas Kita

Baca juga: Tak Sekadar Pangan Lokal, Sagu di Seram Bagian Timur Jadi Sumber Zakat

Ketika uang tak ada dan pilihan hidup semakin sempit, sagu hadir sebagai penyelamat yang tak pernah ingkar.

“Waktu saya kuliah, yang bisa selamatkan saya cuma sagu. Yang lain bisa habis, ikan kering bisa habis, tapi sagu tidak,” kenangnya.

Dirinya bahkan menyimpan sagu layaknya barang berharga, diletakkan dalam peti kayu, dikunci rapat, agar bisa bertahan lebih lama di tengah hidup yang serba pas-pasan.

“Sagu itu saya sembunyikan, saya kunci. Karena saya tahu, selama ada sagu, saya masih bisa bertahan hidup,” tandasnya.

Karena itulah, Darwis mengaku sangat mendukung ketika pemerintah daerah mulai mendorong program hilirisasi sagu. 

Baginya, ini bukan sekadar program, melainkan pengakuan atas jati diri dan martabat masyarakat SBT.

“Selama ini masyarakat hanya tahu pukul sagu dan makan sagu. Sekarang pemerintah mulai bicara pengolahan, bicara nilai tambah. Itu yang membuat saya bersyukur,” katanya.

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved