Rabu, 15 April 2026

BPKW XX

Lentera Sejarah di Pesisir Hila, Membaca Poros Waktu melalui Benteng Amsterdam

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang Belanda yang pada masanya menjadi korporasi terbesar di dunia, membangun pos perdagangan.

Istimewa/Dok. BP Kebudayaan Maluku
BENTENG AMSTERDAM - Bentuk Benteng Amsterdam dengan arsitektur Blokhuis. 

Penulis : Hapsoro Ari

Widyatama (Pamong Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku)

Pesisir utara Pulau Ambon menyimpan banyak lapisan waktu. Di Negeri Hila, salah satu lapisan itu tampak jelas dalam wujud bata, batu karang, dan kayu yang masih berdiri kokoh setelah berabad-abad. Benteng Amsterdam namanya.

Bagi yang pernah menelusurinya secara seksama, bangunan ini bukan sekadar pos militer masa lalu. Ia adalah monumen transisi, tempat di mana kepentingan dagang global dan keteguhan komunitas lokal pernah berbenturan dalam satu titik yang sama.

Cikal Bakal Kolonialisme di Tanah Maluku

Tanah tempat benteng ini berdiri bukan tanah baru dalam peta kolonial. Bangsa Portugis tercatat mendirikan loji perdagangan di sini pada 1512, tertarik oleh aroma cengkih dari Jazirah Leihitu yang saat itu sudah terkenal hingga Eropa. Namun wajah Amsterdam yang kita saksikan sekarang adalah produk dari proses panjang yang dimulai jauh sesudahnya.

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang Belanda yang pada masanya menjadi korporasi terbesar di dunia, membangun pos perdagangan di lokasi ini pada 1629.

Transformasi besar terjadi antara 1642 hingga 1656, ketika pos sederhana itu berubah menjadi benteng pertahanan penuh. Amsterdam kemudian menjadi instrumen penting dalam kebijakan monopoli cengkih Belanda di Maluku.

Di sinilah nama Georgius Everhardus Rumphius masuk ke dalam cerita. Naturalis Jerman yang mengabdikan hidupnya untuk mempelajari alam Maluku ini bertugas di bawah bendera VOC pada periode yang bertepatan dengan pembangunan Amsterdam.

Ketika benteng sedang diperkuat, Rumphius sedang berjalan di tanah yang sama, mencatat dunia yang ia lihat dalam tulisan-tulisan yang kelak menjadi referensi ilmu pengetahuan selama berabad-abad. Keduanya adalah produk dari periode yang sama: masa ketika Hila menjadi salah satu titik paling strategis di kepulauan rempah.

Benteng amsterdam luar
BENTENG AMSTERDAM - Benteng Amsterdam dari atas dengan blokhuis dan bastionnya.

Benteng yang Tidak Biasa

Di antara sekian banyak struktur kolonial yang tersebar di Maluku, Amsterdam memiliki karakter yang berbeda.

Tidak seperti Benteng Belgica di Banda yang menampilkan bastiontinggi nan kokoh di tiap sudutnya, Amsterdam dibangun sebagai blockhouse atau blokhuis dalam bahasa Belanda, sebuah rumah pertahanan yang masih mempertahankan estetika hunian Eropa abad ke-17. 

Bangunan persegi empat tiga lantai ini memadukan fungsi yang beragam dalam satu struktur kompak. Lantai dasar menyimpan amunisi di balik dinding batu karang setebal lebih dari satu meter.

Material berpori ini mampu menjaga stabilitas suhu ruangan, satu bentuk rekayasa termal sederhana untuk menjaga kualitas bubuk mesiu di iklim tropis yang lembap. Lantai dua, dengan jendela-jendela besar dari kayu linggua, berfungsi sebagai barak prajurit sekaligus ruang administrasi. Di lantai tiga yang beratap pelana, lubang-lubang intai meriam masih menghadap ke cakrawala laut.

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved