Maluku
Perjuangan Perempuan Dusun Pohon Batu: Jaga Warisan, Selamatkan Alam
Mereka bahkan berdiri paling depan di antara warga Dusun Pohon Batu, Kabupaten Seram Bagian Barat saat mempertahankan lahan kebun dari penggusuran
Penulis: Jenderal Louis MR | Editor: Fandi Wattimena
TRIBUNAMBON.COM - Wajah Wa Yami memelas, ibu rumah tangga setengah abad itu tidak tahu harus bagaimana lagi setelah lahan perkebunannya diserobot. Masih membekas dalam ingatannya, bersama para perempuan memperjuangkan hak yang dirampas.
Mereka bahkan berdiri paling depan di antara warga Dusun Pohon Batu, Kabupaten Seram Bagian Barat saat mempertahankan lahan kebun yang digusur PT. Spice Island Maluku (SIM).
Sekitar pukul 10.00 WIT, Selasa (9/5/2023) terik matahari belum menyengat kulit, Wa Yami (50) bersama sang suami La Pauna (57) masih menjalani rutinitas rumah tangga. Tiba-tiba terdengar kabar alat berat telah masuk menggerus kebunnya. Tak tunggu lama, Wa Yami menuju ke lokasi, matanya terbelalak akan eksavator yang beroperasi membuka lahan.
Dalam pengawalan aparat keamaman, mesin berat itu menerobos setiap inci lahan milik warga.
"Pak kenapa tidak bisa melarang itu, tapi oknum brimob itu hanya diam," ucapnya.
Teriak saja tak cukup, dia geram melihat warisan orang tua yang selama ini dikelola hancur oleh keserakahan para pemilik modal. Melangkah maju tanpa gentar menghadang alat berat itu, Wa Yami berdiri tepat di bawah bucket ekskavator.
"Berhenti berhenti jangan kalian kerja disini, ini lahan ayah saya, tanah ini sudah lama ada surat-suratnya juga," teriaknya marah.
Tampak operator ekskavator lalu memutar bucket tepat diatas kepala Wa Yami. "Iyo putar, iyo hantam-hantam, paling-paling beta mati," tantangnya.
Perlawanan itu taruhan nyawa baginya. Di lahan itu Wa Yami menanam tanaman umur pendek seperti pisang, sayur dan singkong. Dia berkebun demi menjaga tungku dapur tetap menyala.
"Tidak ada rasa takut, tidak pernah saya takut. Hanya saya bilang Ya Allah kalau seandainya ini beta punya hak, beta punya tanah, biar beta mati pun tidak apa-apa. Karena itu beta punya, kalau beta berjuang demi beta punya kebenaran, kalau bukan beta ambil orang punya beta seng takut, kalau waktu itu memang beta mati, seng apa-apa, demi beta pung keluarga," tuturnya.
Kurang lebih 5 jam, tak selangkah pun ibu tiga anak itu mundur beradu mulut lawan para pekerja perusahaan dan aparat yang menenteng senapan organik.
Perlawanan itu bukan saja menjaga keberlangsungan hidup rumah tangga, tetapi demi mempertahankan warisan untuk anak cucu kelak, termasuk menjaga kelestrian alam di tanah kelahirannya.
Perjuangan yang sama juga ditempuh Wa Ani (40), berdiri paling depan, lantang suara sudah jadi ciri khasnya seperti dalam beberapa kali unjukrasa di jalan raya hingga di Kantor DPRD Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).
Baginya keadilan harus lantang disuarakan, tanpa takut, wajah terpampang dalam pemberitaan media pun tak pedulinya.
”Beta selalu ikut demo, di mana saja dan kapan saja beta musti ada. Jangankan di HP, di TV juga muka ini ada, beta biking begitu supaya mangkali katong punya tanah bisa kambali par katorang,” tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/perjuangan-warga-Dusun.jpg)