Maluku
Perjuangan Perempuan Dusun Pohon Batu: Jaga Warisan, Selamatkan Alam
Mereka bahkan berdiri paling depan di antara warga Dusun Pohon Batu, Kabupaten Seram Bagian Barat saat mempertahankan lahan kebun dari penggusuran
Penulis: Jenderal Louis MR | Editor: Fandi Wattimena
Dasmin menunjuk parit buatan perusahaan selebar 4 meter, arusnya mengarah langsung ke laut. Tak heran jika terjadi banjir maka lumpur ikut hanyut terbawa langsung ke laut.
Alhasil, pesisir mengeruh mengakibatkan rumput laut gagal panen, nelayan juga kesulitan menangkap ikan.
“Pembuatan parit ini mengarah ke air laut, saat banjir endapan lumpur terbawa ke laut, air laut jadi merah sehingga rumput laut mati semua, semua nelayan susah mencari ikan,” keluhnya mewakili segenap warga Dusun Pohon Batu.
Kerusakan mangrove berpengaruh pada ekosistem di sekitarnya, tidak hanya gagal panen rumput laut. Sejak perusahaan beroperasi nelayan juga merasakan hasil perikanannya berkurang drastis, baik itu perikanan tangkap maupun budidaya bagan dan keramba.
“Sebelum perusahaan beroperasi, bagan-bagan ikan di sini semuanya aktif, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi dimanfaatkan, punya saya ada 2 di sana itu. Setelah perusahan beroperasi beberapa bulan setelahnya bagan-bagan ini tidak lagi menghasilkan ikan, tidak ada ikan sama sekali,” kata Karman yang juga berprofesi sebagai nelayan.
Bagan ikan dulunya beromzet hingga puluhan juta kini tampak usang tak terawat. Nelayan hanya pasrah dan bingung harus bagaimana.
“Bagan-bagan sudah seng kalesang, sudah murat marit, sudah tidak diperhatikan lagi, karena memang sudah seng ada hasil, biaya operasinya kan besar, mungkin ikan panik dengan adanya bahan kimia yang hanyut di laut. Sebelum adanya imbas perusahaan, bagan bisa menghasilkan Rp. 30-40 juta perbulan,” tuturnya.
Matinya Budidaya Rumput Laut di Dusun Pohon Batu
Berada di dalam Teluk Kawa, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku menjadikan perairan Dusun Pohon Batu strategis sebagai wadah pertumbuhan rumput laut. Ya, warga Dusun Pohon Batu menggantungkan sebagian besar hidup dari budidaya rumput laut, di samping mereka berkebun, melaut dan juga beternak sapi.
Ada sekitar 70 dari 200 kepala keluarga (KK) berprofesi sebagai pembudidaya rumput laut. Budidaya rumput laut oleh warga Dusun Pohon Batu dimulai sejak tahun 2015 silam.
Puluhan ton yang dihasilkan membuat anak-anak Dusun Pohon Batu bisa mengenyam bangku perguruan tinggi.
Muhammad Karman (45) duduk di tepian Pantai dekat dermaga seakan meratap nasib, ratusan tali nilon bekas budidaya rumput laut kini jadi barang rongsokan dirumahnya.
Karman bercerita, saat menjalankan usaha rumput laut dia mampu mengikat paling kurang 10 Kilogram bibit pada sebuah tali dengan panjang kurang lebih 50 Meter.
Seorang petani rumput laut rata-rata memiliki 100 tali. Mereka membeli bibit rumput laut seharga Rp. 5000 per Kilogram, sehingga dibutuhkan paling kurang 1 Ton bibit yang ditebus dengan harga Rp. 5 juta.
Dari hasil budidaya selama 3 bulan dihasilkan rata-rata 5 Ton rumput laut, kemudian dijual ke pengepul dengan standar harga Rp. 10 ribu per Kilogram.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/perjuangan-warga-Dusun.jpg)