5 Fakta Demo Tolak AMDAL Ala Masyarakat Adat Maluku Barat Daya, Atribut sampai Poster
Berikut hal-hal menarik dan unik dilakukan masyarakat adat MBD ketika demo tolak AMDAL did epan Kantor Gubrnur Maluku
Masyarakat adat MBD mempercayai sopi yang dituangkan ke tanah itu merupakan salah satu ritual yang dilakukan untuk meminta kepada Tuhan maupun leluhur ikut serta dalam aksi mereka.
• Persoalkan Porsi, Pemuda di Aru Demo Tolak Maluku Lumbung Ikan Nasional
3. Atribut Tradisional MBD
Membawa identitas daerah dalam aksi demo adalah hal yang jarang dilakukan demonstran di Maluku.
Hal ini dianggap menarik, karena tidak hanya bahasa daerah MBD saja, melainkan atribut tradisional juga turut dikenakan dalam aksi yang dilakukan massa di depan gerbang kantor Gubernur Provinsi Maluku.
Hampir seluruh demonstran menggunakan ikat kepala yang terbuat dari nyiur kelapa.
Dalam bahasa daerah MBD disebut ‘Nora Tawuni’.
Sementara sebagian demonstran laki-laki menggunakan pengikat kepala yang disebut kain berang.
Di Maluku, kain berang ini berfungsi sebagai kebanggaan laki-laki Maluku, dianggap sebagai sosok pimpinan dan kekerabatan.
Selain itu, warna merah di kain berang juga menjadi pedanda unsur keberanian.
Rata-rata orator aksi mengalungkan kain tenun MBD. Sungguh aksi demo dirasa seperti pameran budaya.
• Mahasiswa Universitas Pattimura Ambon Diculik dan Dipukuli, Diduga Gara-gara Ikut Demo Sebelumnya
4. Poster Demo
Atribut yang tak bisa dilewatkan saat melakukan aksi dan selalu menarik perhatian, yaitu poster demo.
Dalam aksi kali ini, demonstran menuliskan beberapa tuntutan mereka di poster demo.
Tuntutan itu diseriusi dengan tulisan-tulisan yang ‘menggemaskan’.
Salah satu spanduk si penyita perhatian bertuliskan “kalau mau makan minta permisi”.