Rabu, 8 April 2026

Malteng Hari Ini

Puluhan Relawan Aksi Sosial Lingkungan di Wae Ela Negeri Lima

Bendungan Wae Ela, Negeri Lima, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, memiliki keterkaitan erat dengan fenomena erosi dan banjir. 

|
Penulis: Maula Pelu | Editor: Mesya Marasabessy
Istimewa
BENDUNGAN WAE ELA - Puluhan relawan saat keterlibatan aksi sosial lingkungan di Bendungan Wae Ela, Minggu (4/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Sekitar 50 relawan yang terdiri dari berbagai perwakilan komunitas seperti Gudep Baliwe (SMA 10 Maluku Tengah), anak-anak pesisir, serta masyarakat umum, terlibat langsung dalam penanaman pohon dan pembersihan lingkungan pada Minggu (4/1/2026).
  • Mereka gotong royong menanam 25 bibit pohon Tabebuya di lereng-lereng curam sekitar bendungan yang rawan tergerus yang hujan. 
  • Selain itu pula, mereka menyelenggarakan diskusi santai seputar sejarah, tantangan, dan upaya pelestarian Wae Ela.

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

LEIHITU, TRIBUNAMBON.COM-  Bendungan Wae Ela, Negeri Lima, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, memiliki keterkaitan erat dengan fenomena erosi dan banjir. 

Belasan tahun lalu, longsor besar dari bukit Uluk Hatu yang dipicu curah hujan tinggi dan ketidakstabilan struktur tanah atau erosi lereng yang ekstrim, menutup aliran sungai Wae Ela.  

Saat itu air tertampung, dan muncul tragedi mengerikan Juli 2013 bendungan ini jebol, sekitar 40 juta meter kubik air tumpah ruah ke lembah dan lantas menerjang Desa Negeri Lima yang jarak 2,5 kilometer, terletak di bibir pantai. 

Air dengan volume yang besar itu membawa matrial sedimen ke arah pemukiman, dan dikabarkan ratusan rumah hancur, ribuan warga evakuasi. 

Dari peristiwa itu, lambat laun lahirlah sebuah danau alami yang kini menjadi destinasi wisata favorit para pecinta alam. 

Longsor tersebut membentuk dengan panjang sekitar 1.100 meter, lebar 300 meter, dan tinggi mencapai 215 meter.

Menjaga agar tidak terjadi fenomena serupa besok lusa, puluhan relawan dari berbagai latar belakang melakukan aksi sosial lingkungan di kawasan Bendungan Wae Ela. 

Baca juga: 22 Hari Posko Arus Nataru di Ambon, Ini Daerah Tujuan Perjalanan Tertinggi

Baca juga: Cuaca Ekstrem Sebabkan Padam Listrik di Ambon, PLN Bergerak Cepat Lakukan Penormalan

Koordinator kegiatan, Wirda Salong, kepada TribunAmbon.com Kamis (8/1/2026), penanaman Tabebuya dipilih karena karakter akarnya yang kuat dan cocok untuk lereng curam. 

Pohon-pohon itu ditanam pada titik-titik yang tidak digunakan untuk aktivitas berkemah. 

"Kami memilih menanam Tabebuya di area tanggul dan lereng yang curam di sekitar bendungan dengan pertimbangan efektivitas. Akarnya yang kuat dapat membantu menahan tanah, sementara keindahan bunganya nanti akan menjadi warisan untuk kita semua," jelasnya.

"Ini adalah pengingat sederhana bahwa alam tidak membutuhkan manusia, tetapi kitalah yang bergantung pada alam. Harapan kami, kegiatan kecil ini bisa menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga warisan alam ini," sambung Sallong.

Kegiatan ini disebut sebagai ‘Kemah Hijau’. Yakni bagian dari rangkaian panjang "Aksi Adaptasi Perubahan Iklim" yang diinisiasi Komunitas Pele Pesisir. 

Achmad M. Heluth, Ketua Komunitas Pele Pesisir, dalam kesempatan itu menitipkan pesan khusus kepada seluruh pengunjung Wae Ela. 

Diharapkan setiap orang yang datang, baik warga Negeri Lima maupun dari luar, dapat turut menjaga dan merawat pohon-pohon yang telah ditanam, sehingga aksi ini tidak berhenti pada satu hari, tetapi berlanjut menjadi tanggung jawab bersama. (*)

Sumber: Tribun Ambon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved