Semua Tentang Sagu
Sagu di Mata Anggota DPRD SBT Gafar Rumonin: Dewa Penyelamat Masyarakat
Ia bercerita, meski pohon sagu banyak tumbuh di tanah besar, masyarakat kepulauan justru berperan besar dalam proses produksinya.
Penulis: Haliyudin Ulima | Editor: Mesya Marasabessy
Namun, kenangan manis itu kini berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan.
Gafar menyayangkan banyak pohon sagu yang dibiarkan mati tanpa pengelolaan, padahal nilai ekonominya sangat besar.
“Satu pohon sagu bisa bernilai sampai Rp6 juta. Kalau puluhan hektare mati setiap tahun, itu kerugian miliaran rupiah,” tegasnya.
Sebagai wakil rakyat, Gafar mendorong Pemerintah Kabupaten SBT agar serius mengembangkan program hilirisasi sagu.
“Ini bukan lahan kosong. Semua sudah ada pemiliknya. Harus didata dulu supaya pemerintah bisa memediasi dengan baik saat program berjalan,” jelasnya.
Ia berharap, hilirisasi sagu tidak hanya menyelamatkan tanaman sagu yang selama ini terabaikan, tetapi juga mengembalikan martabat sagu sebagai sumber kehidupan dan penggerak ekonomi masyarakat.
“Hari ini sagu belum punya nilai yang terlalu mahal. Tapi kalau program ini jalan, sagu akan bernilai. Pendapatan naik, daya beli masyarakat juga ikut meningkat,” tutupnya.(*)
| Sagu Dimata Anggota DPRD SBT Darwis Rumakey: Penyelamat Anak Negeri |
|
|---|
| Wabup Mario Tekankan Pentingnya Jajanan Lokal Berbahan Sagu: Itu Identitas Kita |
|
|---|
| 200 Lempeng Sagu per Loyang: Antara Harapan dan Perjuangan Para Ibu di Masohi |
|
|---|
| Sagu Dimata Ketua Komisi I DPRD SBT: Penopang Hidup Sekaligus Pengikat Emosional |
|
|---|
| Tak Sekadar Pangan Lokal, Sagu di Seram Bagian Timur Jadi Sumber Zakat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Rumonin-Sagu.jpg)