Rabu, 15 April 2026

SBT Hari Ini

Soal Kebocoran Pipa Minyak di SBT, Ini Penjelasan PT. Karlez

Pihak perusahaan memastikan, fenomena tersebut merupakan proses alami akibat karakteristik sumur yang sudah tidak lagi berproduksi.

Penulis: Haliyudin Ulima | Editor: Mesya Marasabessy
TribunAmbon.com/Ali/Haliyudin Ulima
PT. KARLEZ - Luapan minyak milik PT. Karlez Petroleum Limited di Kampung Densel, Desa Fatolu Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Selasa (20/1/2026). 

Ringkasan Berita:
  • PT Karlez memastikan, fenomena luapan gas dari sumur merupakan proses alami akibat karakteristik sumur yang sudah tidak lagi berproduksi.
  • Sumur 28S6 diketahui berstatus sumur satin atau sumur non-produktif yang memiliki kandungan gas di dalam reservoir. 
  • Seiring waktu, gas tersebut mengalami penumpukan hingga akhirnya keluar dengan sendirinya, melalui karatan pipa.

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima 

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Manajemen PT. Karlez Petroleum Limited akhirnya memberikan penjelasan terkait bocornya saluran pipa minyak di dekat pemukiman warga Kampung Densel, Desa Fattolo, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Pihak perusahaan memastikan, fenomena tersebut merupakan proses alami akibat karakteristik sumur yang sudah tidak lagi berproduksi.

Sumur 28S6 diketahui berstatus sumur satin atau sumur non-produktif yang memiliki kandungan gas di dalam reservoir. 

Seiring waktu, gas tersebut mengalami penumpukan hingga akhirnya keluar dengan sendirinya, melalui karatan pipa.

“Statusnya sumur satin, kemudian satin tidak berproduksi. Jadi reservoirnya kandungannya gas, dan secara berkala akan terjadi penumpukan, lalu dengan sendirinya gas itu akan keluar,” ujar Wahyu, Departemen Produksi PT Karlez Petroleum Limited, kepada TribunAmbon.com, Selasa (20/1/2026).

Baca juga: Bupati Malteng Dampingi Mendes PDT Bahas Optimalisasi Dana Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal

Baca juga: Penemuan Telur tak Lazim di Pulau Ay Banda Ditindak Dinas Perkebunan dan Peternakan Malteng ‎

Wahyu menjelaskan, saat awal kejadian tekanan gas yang terpantau pada indikator mencapai 200 PSI. 

Namun, tekanan tersebut kini sudah berangsur turun setelah dilakukan pelepasan tekanan secara bertahap.

“Pressure indicator awalnya terbaca 200 PSI, tapi dengan berjalannya waktu kita rilis dan sekarang sudah di bawah 100 PSI,” jelasnya.

Ia menegaskan, kondisi tersebut masih dalam batas yang dapat dikendalikan dan terus dipantau oleh tim di lapangan meski dengan berbagai keterbatasan.

Selain faktor alami, proses penanganan gas juga sempat mengalami kendala teknis. 

Wahyu mengungkapkan, alur normal pengaliran gas seharusnya dari sumur menuju flowline, kemudian ke separator, dan berakhir di tangki penampung.

Namun, saat dilakukan pengecekan, separator terindikasi mengalami gangguan.

“Di separator terindikasi ada plug di valve atau colokkan katup. Jadi kita bypass langsung ke tangki,” ungkap Wahyu.

Kata dia, tangki penampung yang digunakan memiliki kapasitas sekitar 100 barel. 

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved