Kamis, 23 April 2026

SBT Hari Ini

Keluarga Korban Pencabulan Anak di SBT Nilai Ada Kejanggalan Penanganan Kasus

Adiknya diketahui menjadi korban atas dugaan kasus pencabulan yang dilakukan oleh oknum gurunya sendiri pada salah satu SMP.

Penulis: Haliyudin Ulima | Editor: Mesya Marasabessy
Haliyudin Ulima
PENCABULAN - Kakak dari korban dugaan pencabulan oknum guru di SBT, saat menyampaikan kesaksiannya dihadirkan Pihak Kepolisian ketika unjuk rasa di depan Markas Polres SBT, Selasa (29/9/2025). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima

BULA, TRIBUNAMBON.COM - Keprihatinan mendalam menyelimuti keluarga korban pencabulan, setelah kakak korban meluapkan kemarahan dan kekecewaannya di hadapan pihak kepolisian terkait penanganan kasus adiknya. 

Adiknya diketahui menjadi korban atas dugaan kasus pencabulan yang dilakukan oleh oknum gurunya sendiri pada salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). 

Dalam kesaksian yang sarat emosi, ia mempertanyakan kinerja aparat setelah mendapat kabar bahwa pelaku, yang merupakan guru korban, justru sudah berada di Geser, Kecamatan Seram Timur, beberapa waktu lalu. 

Padahal sebelumnya, pelaku telah telah diserahkan secara utuh oleh keluarga korban ke pihak kepolisian, dengan harapan agar masalah itu dapat ditangani secara baik-baik. 

"Saya datang ke kantor Polisi dengan baik, dan mempercayakan kasus ini kepada Polisi. Pelaku kami serahkan ke Polisi dengan keadaan utuh, bapak korban bahkan tidak memukulnya," ujar kaka korban. 

Baca juga: Citra Polri Tercoreng: Bripka Erick Risakotta Terjerat Kasus 86 Sianida di Maluku

Baca juga: Kerap Terjadi Macet di Pasar Mardika, Warga Salahkan Angkot Parkir

Namun, kepercayaan itu kini runtuh.

Kakak korban mengaku terheran-heran mendengar kabar perpindahan pelaku, seolah menuduh adanya kejanggalan dalam penanganan kasus adiknya itu.

"Kemarin dulu saya mendengar kabar bahwa pelaku sudah berada di Geser, kenapa sampai begitu? Ada apa yang kalian sembunyikan?" tanyanya.

Pihaknya menilai, jika penanganan kasus tersebut lambat seperti ini, pihaknya lebih memilih untuk mengambil langkah sendiri daripada menyerahkan pelaku ke penegak hukum.

"Jikalau saya tahu hukum seperti ini, mungkin saya sudah bawa pelaku ke masyarakat dan menghakimi sendiri tanpa perlu membawanya ke sini," sesalnya.

Pernyataan ini menunjukkan betapa besar kekecewaan dan hilangnya harapan akan keadilan melalui jalur hukum resmi.

Kakak korban juga menyoroti penderitaan fisik dan batin ayahnya sebagai dampak kasus ini. 

"Kalian lihat ini adalah bapaknya, dulu badannya tidak seperti ini, demi anaknya dia sampai sekurus ini karena anaknya dicabuli oleh gurunya sendiri," katanya. 

Puncak kekecewaan keluarga adalah lambatnya penanganan kasus yang terkesan hilang begitu saja. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved