Maluki Terkini

BPS Mencatat Nilai Tukar Petani di Maluku Naik 0,58 persen, Ini Presentasinya

Hal tersebut disampikan Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, dalam acara peluncuran Berita Resmi Statistik (BRS) untuk Juni 2025, pada

Penulis: Maula Pelu | Editor: Ode Alfin Risanto
Banjarmasin Post
PERTANIAN-Ilustrasi-seorang-petani-padi-sedang di Sawah 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

AMBON, TRIBUNAMBON.COM- Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan pada 42 kecamatan di Provinsi Maluku, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2025 tercatat sebesar 102,01 atau naik 0,58 persen dibanding April 2025 yang tercatat sebesar 101,42.

Hal tersebut disampikan Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, dalam acara peluncuran Berita Resmi Statistik (BRS) untuk Juni 2025, pada Jumat (6/6/2025).

Dijelaskan, peningkatan NTP disebabkan oleh indeks harga hasil produksi pertanian (It) yang tercatat naik sebesar 1,78 persen, lebih tinggi dari peningkatan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang tercatat sebesar 1,19 persen.

“Pada Mei 2025 Provinsi Maluku berada di urutan ke-34 dari 38 provinsi dengan NTP sebesar 102,01. NTP tertinggi terjadi di Provinsi Bengkulu sebesar 200,19, sementara NTP terendah terjadi di Provinsi Papua Pegunungan sebesar 97,57,” ungkap Pattiwaellapia.

Baca juga: Ekspor di Maluku 2025 12,07 Juta Dolar, Turun Dibanding 2024 : Sektor Non Migas Dominasi

Tercatat tiga subsektor mengalami peningkatan NTP yakni, subsektor tanaman pangan, subsektor hortikultura, dan subsektor tanaman perkebunan rakyat.

Untuk NTP Tanaman Pangan (NTPP), pada Mei 2025 terjadi peningkatan NTPP sebesar 0,86 persen.

Hal ini terjadi karena It mengalami peningkatan sebesar 1,84 persen, lebih tinggi dari peningkatan Ib yang sebesar 0,97 persen.

Sementara Peningkatan It pada Mei 2025 disebabkan oleh naiknya indeks pada kelompok penyusun NTPP

yaitu kelompok padi (komoditas gabah) yang tercatat 1,95 persen dan kelompok palawija (khususnya komoditas ketela pohon, ketela rambat dan kacang hijau) yang tercatat sebesar 1,78 persen.

Subsektor Tanaman Hortikultura (NTPH) terjadi peningkatan NTPH sebesar 3,57 persen. Hal ini terjadi karena It mengalami peningkatan sebesar 4,67 persen sedangkan Ib hanya meningkat sebesar 1,06 persen.

“Peningkatan It pada Mei 2025 disebabkan oleh meningkatnya It pada satu kelompok penyusun NTPH yaitu kelompok sayur-sayuran (khususnya komoditas cabai rawit, cabai merah, tomat, terung, sawi hijau, buncis, kangkung, kacang panjang, bayam, bawang merah, pare/paria, dan cabai hijau) sebesar 6,50 persen,” sebutnya.

Sedangkan dua kelompok lainnya mengalami penurunan It, yaitu kelompok tanaman obat-obatan (khususnya jahe dan kunyit) sebesar 3,61 persen, dan kelompok buah-buahan (khususnya komoditas pisang, jeruk, salak dan semangka) sebesar 0,43 persen.

Selanjutnya NTP untuk subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR), tercatat penurunan NTPR sebesar 0,02 persen.

Baca juga: Peduli Kanker Payudara, Komunitas Moluccas Survivor Community Gelar Senam Sehat

Hal ini dipicu oleh peningkatan pada It sebesar 1,56 persen, sedikit lebih tinggi dari peningkatan Ib yang tercatat sebesar 1,53 persen.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved