Ambon Hari Ini

PAUD Sadar Lingkungan: Rumah Belajar dan Mencipta Agen Kebersihan

Tiga hari dalam sepekan, 12 hari dalam sebulan, Ibu dari Anggi Mansino (4,5 Tahun) itu jarang sekali absen ke sekolah.

|
Penulis: Fandi Wattimena | Editor: Tanita Pattiasina
TribunAmbon.com/ Fandi Wattimena
Suasana belajar di kelas PAUD Sadar Lingkungan, Jumat (5/10/2024). 

Selain itu, juga ada kelas kreatif yang melibatkan siswa dan orang tua, dimana ibu dan anak diberikan tugas untuk membuat karya dari sampah.

Membuat ecobrick salah satunya, dengan target peserta kelas kreatif bisa mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai pakai hingga ekonomis.

Nilci Tane, trainer PAUD Sadar Lingkungan saat menunjukan ecobrick karya siswa dan orang tua, Jumat (5/10/2024).
Nilci Tane, trainer PAUD Sadar Lingkungan saat menunjukan ecobrick karya siswa dan orang tua, Jumat (5/10/2024). (TribunAmbon.com/ Fandi Wattimena)

Menurut Nilci Tane, pengajar yang juga Trainer bersertifikasi internasional (Global Ecobrick Aliance), tugas hingga metode pembelajaran di PAUD Sadar Lingkungan menjadi efektif karena pengajar mencontohkan setiap harinya dan melibatkan orang tua dalam proses.

Nilai edukasi dan agitasi yang berulang dalam lingkungan sekolah diyakini efektif memunculkan kesadaran anak sejak dini dan orang tua auto menjadi bagian dalam upaya itu.

Harapannya sederhana, siswa dan orang tua menjadi agen kebersihan di lingkungan masing-masing.

CSR PT. Pertamina - Learning Centre Pendidikan lingkungan

Masih menyoal ecobrick, solusi penangan sampah tak terurai itu pun jadi pembahasan di lingkungan PT. Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura.

Hal itu mengingat Segel Bridger tangki Avtur bekas pakai cukup banyak.

Meski belum ada data resmi total berat sampah tak terurai itu dalam periode tertentu, namun langkah antisipasi telah dilakukan, yakni menjadikannya ecobrick.

Beberapa kilo sampah segel bridger pun sampai ke tangan pengajar PAUD Sadar Lingkungan untuk diolah menjadi ecobrick.

CSR PAUD 7
Sampah segel Bridger yang diolah jadi Ecobrick (TribunAmbon.com/ Fandi Wattimena)

Hanya saja para pegiat lingkungan itu kemudian menghadapi kesulitan untuk menghancurkan segel yang terbuat dari plastik padat itu menjadi potongan kecil.

"Gunting rusak, hingga tangan ini lecet," ujar Nilci menunjukan gunting yang rusak itu.

Tak berputus asa, kondisi itu malah berbuah inovasi dengan hadirnya Oplas 452, yaitu alat pencacah plastik dengan memanfaatkan putaran sepeda yang ditenagai manusia.

Menurut Community Development Officer (CDO) PT. Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura, Tiara Chaerani, alat pencacah itu efektif menghancurkan segel bridger yang bahannya cukup keras.

Salah satu masalah sampah di lingkungan kerja pun teratasi sekaligus memudahkan upaya kreatif pengajar PAUD Sadar Lingkungan.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved