Gelar Adat

Pemberian Gelar Adat kepada Murad-Widya, Jodis Rumasoal: Bentuk Promosi Potensi Wisata Maluku

Menurutnya, merupakan sebuah kewajaran bagi seorang pemimpin di Maluku, sehingga dapat mengembalikan simbol masyarakat Pulau Seram yang kata dia telah

|
Editor: Adjeng Hatalea
Sumber; Jodis Rumasoal
Politisi PDIP Jodis Rumasoal 

TRIBUNAMBON.COM - Anggota DPRD Seram Bagian Barat Jodis Rumasoal mengemukakan, pemberian Gelar Adat Ina Latu dan Upu Latu Nunusaku kepada Gubernur Maluku, Murad Ismail dan Istrinya Widya Pratiwi merupakan bentuk upaya mempromosikan potensi wisata daerah tersebut.

Hal ini dikemukakannya menanggapi aksi penolakan penyematan gelar Ina Latu dan Upu Latu Nunusaku yang digelar Gerakan Mahasiswa Alifuru (GEMAFURU), Jumat (17/3/2023).

Kata dia, pemberian gelar adat itu tidak menyalahi aturan hukum.

"Bahwa pemberian gelar Upu Latu Nunusaku tidak persoalan hukum di dalamnya, hanya mempertegas bagaimana memperkenalkan atau menjual kebudayaan Nunusaku kepada dunia," ucapnya dalam pesan WhatsApp kepada TribunAmbon.com, Sabtu (18/3/2023).

Menurutnya, merupakan sebuah kewajaran bagi seorang pemimpin di Maluku, sehingga dapat mengembalikan simbol masyarakat Pulau Seram yang kata dia telah hilang.

"Pemberian gelar Upu Latu Nunusaku kepada seorang pemimpin besar di Maluku merupakan wajar - wajar saja karena beliau adalah Upu Latu Maluku yang hari ini memimpin Negeri Seribu pulau sehingga kebesaran Nunusaku yang merupakan simbol orang Seram yang telah hilang secara gaib sehingga memperkenal Kab SBB & Pulau Seram sebagai peradaban sejarah Maluku yang di sebut sebagai Nusa Ina & Pulau Ibu," jelasnya.

Baca juga: Jodis Rumahsoal Disebut Aktor di Balik Pemberian Gelar Adat Upu Latu dan Ina Latu Nunusaku

Untuk itu, dia meminta pemberian gelar adat ini tidak dipersoalkan.

Sudah saatnya masyarakat Pulau Seram bangkit dan berjuang menyambut pembangunan, melalui promosi kekayaan yang ada melalui pemberian gelar adat itu.

"Jangan membuat gaduh dengan opini liar di tengah-tengah masyarakat yang menghambat pembangunan di Kabupaten SBB & Pulau Seram secara umum. Sehingga ada pepatah 'Orang Seram Belakang Tanah' jangan terulang kembali dan sekarang kita bangkit berjuang menyambut pembangunan, salah salah satunya menjual kekayaan Nunusaku dan Pulau seram secara utuh, agar basudara di daerah pedalaman pulau Seram dan Kepulauan Manipa, Kelang serta Buano bisa merasakan pembangunan juga," ungkapnya.(*)

Sumber: Tribun Ambon
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved