Breaking News:

Ambon Hari Ini

Warga Protes Pembangunan Bendungan: Selamat Datang di Ahuru, Daerah Wajib Masker Bukan Karena Covid

Warga Ahuru, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Maluku, memprotes perusahaan yang menangani proyek pembangunan bendungan.

Kompas
Warga kawasan Ahuru, kecamatan Sirimau, kota Ambon, Maluku menggelar demo memprotes aktivitas pembangunaan bendungan yang berdampak pada pencemaran udara di kawasan tersebut, Sabtu (1/10/2022) 

TRIBUNAMBON.COM - Warga Ahuru, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Maluku, memprotes perusahaan yang menangani proyek pembangunan bendungan di kawasan Kampung Rinjani, Ahuru, Sabtu (1/10/2022).

Mereka menggelar aksi demo dekat lokasi pembangunan Bendungan itu.

Terlihat para siswa juga ikut berdemo.

Mereka mengusung sejumlah poster dan juga spanduk.

Di spanduk, mereka menulis pernyataan proyek itu dinilai menyebabkan pencemaran udara parah di wilayah itu.

Tulisan yang ditulis dalam poster ada berbagai macam, termasuk 'Cukup Bendungan yang Dicor, Paru-paru Jangan"

Baca juga: Pendeta Kesaulya Sebut BWS Maluku dan PT. Diyan Nugraha Saotanre Bohongi Jemaat Gereja Petra Ahuru

Selain itu, ada "Selamat Datang di Ahuru, Daerah Wajib Masker, Bukan Karena Covid"

"Butuh Solusi Bukan Polisi" hingga "Tumbal Proyek".

Kepala Pemuda Ahuru Syahril Ramadhan Hunsouw mengatakan, aksi demo itu dilakukan warga bersama sejumlah siswa sekolah karena mereka sudah tak tahan dengan polusi udara akibat pembangunan bendungan di permukiman.

“Bukan hanya warga di Ahuru sini semua orang yang lewat di sini sangat terganggu dengan pencemaran udara yang terjadi saat ini akibat aktivitas pembangunan bendungan ini,” kata Syahril dilansir dari Kompas.com, Sabtu.

Ia menyebut, pembangunan bendungan di permukiman itu sangat tidak ramah lingkungan sehingga warga sangat dirugikan.

Kondisi semakin diperparah karena truk proyek yang mengangkut material pembangunan bendungan selalu masuk keluar area permukiman. Hal itu menyebabkan pencemaran udara yang semakin tak terkendali.

“Jadi polusi udara ini sangat parah sekali di sini, dan saat ada hujan itu jalan-jalan becek semua dan kami menolak itu karena kami masyarakat sangat dirugikan,” katanya.

Warga mengaku sangat mendukung penuh pembangunan bendungan itu. Namun, pembangunan bendungan harus dilakukan dengan memperhatikan dampak lingkungan terhadap masyarakat.

“Kami dukung tapi perusahaan harus memperhatikan dampak lingkungannya juga, jangan asal kerja,” ujarnya.

Akibat pencemaran udara yang parah di kawasan itu, warga kini kembali memakai masker baik di luar maupun di dalam rumah.

Langkah itu dilakukan karena mereka tidak ingin terserang penyakit akibat pencemaran udara yang terjadi.

“Jadi sekarang kita di sini kembali pakai masker lagi. Kita minta perusahan untuk perhatikan masalah ini dan kalau boleh bisa memebrikan pengobatan dan pemeriksaan kesehatan gratis kepada warga yang terdampak proyek ini,” ungkap Syahril.

Terkait demonstrasi yang dilakukan warga itu, pihak yang bertanggung jawab dalam pembangunan proyek tersebut belum berhasil dikonfirmasi. (*)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved