Rabu, 3 Juni 2026

Maluku Terkini

Mengenal Sosok Siwabessy, Bapak Atom Indonesia asal Maluku 1914-1982

Gerrit Agustinus Siwabessy, atau G.A Siwabessy lahir di Ullath, Saparua, Maluku pada 19 Agustus 1914. Terlahir dari pasangan petani cengkih, Enoch Si

Tayang:
Penulis: Jenderal Louis MR | Editor: Adjeng Hatalea
TribunAmbon.com/Dedy
AMBON: Patung G.A Siwabessy di kompleks Fakultas Kedokteran Unpatti, Kamis (21/7/2022) pagi. 

Di NIAS inilah Siwabessy dipanggil dengan julukan Upuleru, yang dalam bahasa tana (tanah, asli) Maluku Tengah artinya “dewa” atau ”pelindung”.

Sebutan ini terus dipakai oleh teman-temannya semasa perjuangan 1945. Itu sebabnya ketika Siwabessy menulis memoarnya yang diterbitkan oleh Gunung Agung pada 1979, disepakati judul memoar tersebut ”Upuleru”.

AMBON: Pesan Presiden Soekarno pada prasasti di patung GA Siwabessy dari Memoar Siwabessy berjudul
AMBON: Pesan Presiden Soekarno pada prasasti di patung GA Siwabessy dari Memoar Siwabessy berjudul "Upuleru". (TribunAmbon.com/Dedy)

Singkat cerita, Siwabessy lulus dari NIAS pada 1941 dan langsung diminta oleh Belanda untuk dipekerjakan sebagai seorang dokter penuh dengan fasilitas sangat memadai pada pusat pengeboran perusahaan minyak Belanda, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Cepu, Jawa Tengah.

Pada Maret 1942 tentara Jepang memasuki Indonesia sehingga timbullah kekacauan yang mengharuskan semua orang Eropa dan para dokter yang berdinas di BPM Cepu harus mengungsi ke Surabaya.

Di kota itu Siwabessy bertemu dengan Dr. Sutjahyo, kawan lamanya di NIAS yang memegang kedudukan penting di Bagian Radiologi dan Bagian Paru-paru Rumah Sakit Simpang, Surabaya.

Ia meminta bantuan Siwabessy untuk memimpin bagian radiologi.

Keahlian Siwabessy pada bidang radiologi di kemudian hari juga terasah oleh para seniornya, Dr RM Notokworo dan Dr Abdulrachman Saleh.

"Sebetulnya beta tidak terlalu tertarik pada radiologi, Semasa mahasiswa beta lebih banyak tertarik pada bidang fisika, dan karena hubunganku dengan dr. Latumeten, kepala Rumah Sakit Jiwa Lawang, beta tertarik pula pada bidang psikiatri (ilmu jiwa klinis). Namun demi kelangsungan hidup, beta rela bekerja dalam bidang radiologi. Dengan demikian beta masuk ke bidang yang sama sekali baru bagiku. Tidak kuduga ketika itu, bahwa keputusan yang kuambil secara terpaksa ini akan menentukan jalan hidup kemudian, baik pada masa krisis pada pendudukan Jepang maupun dalam masa revolusi dan masa merdeka," tulis Siwabessy dalam memoarnya "Upuleru".

Pada 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, disitulah titik awal Siwabessy muda yang aktif pada organisasi mahasiswa Maluku, semakin giat memperjuangkan kembali hak-hak bangsa Indonesia.

Hingga pada 1949 dr. Leimena, Menteri kesehatan RI saat itu, merekomendasikan agar Siwabessy melanjutkan pendidikan di bidang radiologi.

Saat memperdalam bidang radiologi itu, Siwabessy banyak berkenalan dengan para ahli atom dari bidang terkait, seperti fisika nuklir, kimia, biologi, fisika-radiasi, kimia-radiasi, biologi radiasi, dan radioterapi.

Selain itu Siwabessy juga melihat bahwa pengobatan kanker di London sudah banyak menggunakan hasil penemuan dan penyinaran atom.

Baca juga: Tak Terawat, Monumen Patung Siwabessy di Universitas Pattimura Mulai Rusak, Marmer Prasasti Copot

Hal-hal inilah banyak memberi wawasan baru yang kelak kemudian hari diterapkan di Indonesia.

Karya Siwabessy kini juga terukir di Departemen Radioterapi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Pada 1952 Amerika Serikat berhasil meledakkan bom hidrogen pertama berkode Ivy Mike di Atol Eniwetok, Kepulauan Marshall, Samudera Pasifik.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved