Rabu, 3 Juni 2026

Maluku Terkini

Mengenal Sosok Siwabessy, Bapak Atom Indonesia asal Maluku 1914-1982

Gerrit Agustinus Siwabessy, atau G.A Siwabessy lahir di Ullath, Saparua, Maluku pada 19 Agustus 1914. Terlahir dari pasangan petani cengkih, Enoch Si

Tayang:
Penulis: Jenderal Louis MR | Editor: Adjeng Hatalea
TribunAmbon.com/Dedy
AMBON: Patung G.A Siwabessy di kompleks Fakultas Kedokteran Unpatti, Kamis (21/7/2022) pagi. 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Dedy Azis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Sebuah patung setinggi 7 meter berdiri di ujung kampus Universitas Pattimura (Unpatti), Kota Ambon.

Berada di pinggir jalanan utama, membuat setiap orang yang melintas baik mahasiswa atau pengguna jalan pasti melihat patung tersebut.

Namun, tak banyak orang yang tau siapa sebenarnya patung yang berada di kompleks Fakultas Kedokteran, Unpatti itu.

Dialah Gerrit Agustinus Siwabessy, seorang ilmuwan dan politikus Indonesia yang menjabat Menteri Badan Tenaga Atom Nasional pada 1964 dan Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1966 hingga 1978 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto.

Tak hanya dikenal sebagai Politikus dan mantan Menteri Kesehatan RI, Siwabessy juga bisa dikatakan sebagai bapak Atom Indonesia.

TribunAmbon.com akan mengajak Tribuners untuk mengetahui lebih dalam siapa sosok Siwabessy hingga harus diabadikan melalui karya seni patung, Kamis (21/7/2022) siang.

Gerrit Agustinus Siwabessy, atau G.A Siwabessy lahir di Ullath, Saparua, Maluku pada 19 Agustus 1914.

Terlahir dari pasangan petani cengkih, Enoch Siwabessy dan Nace Manuhuttu, Siwabessy merupakan anak bungsu dari empat bersaudara.

Di usianya yang baru menginjak satu tahun, Siwabessy harus kehilangan ayahnya, yang meninggal karena sakit. ibunya pun memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang guru terpandang, yakni Yakob Leuwol.

Memiliki ayah sambung yang berprofesi sebagai seorang guru, membuat Siwabessy kecil dapat mengenyam pendidikan sekolah dasar hingga menengah.

Meski begitu, pada masa itu, tak mudah bagi Gerrit untuk tetap bersekolah ditengah situasi perang di Indonesia.

Siwabessy kecil harus menempuh perjalanan yang cukup jauh ke sekolah, kedua kakaknya pun sering bergantian menggendong Siwabessy kecil untuk menempuh perjalanan jauh.

Berkat jerih payah, dan kekompakan keluarganya itu, pada 1931, Siwabessy berhasil menyelesaikan studinya setingkat SMA di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, (MULO), di kota Ambon.

Prestasinya yang gemilang di MULO mengantar Siwabessy menjadi penerima beasiswa untuk meneruskan pendidikan kedokteran ke Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), Surabaya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved