Breaking News:

Ambon Hari Ini

Rovik Akbar Afifuddin Usul Pemulasaran Jenazah Covid-19 Libatkan Keluarga

Pelibatan keluarga menurutnya menjadi solusi terbaik menyusul terus berulangnya kejadian ambil paksa jenazah pasien terkonfirmasi Covid-19.

Penulis: Mesya Marasabessy | Editor: Fandi Wattimena
TribunAmbon.com/Mesya
MALUKU: Anggota DPRD Maluku, Rovik Akbar Afifuddin, Senin (26/7/2021). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Mesya Marasabessy

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Anggota DPRD Maluku, Rovik Akbar Afifuddin usulkan pemulasaran jenazah Covid-19 melibatkan pihak keluarga.

Pelibatan keluarga menurutnya menjadi solusi terbaik menyusul terus berulangnya kejadian ambil paksa jenazah pasien terkonfirmasi Covid-19.

“Apa salahnya kalau pemerintah membuat aturan kalau keluarga meninggal itu diurusi dulu oleh pihak keluarga supaya walaupun pemakaman dilakukan sesuai protokol kesehatan tapi tidak lagi menimbulkan keresahan bagi keluarga yang ditinggalkan," kata Rovik kepada TribunAmbon.com di Kantor DPRD Maluku, Selasa (3/8/2021) siang.

Lanjutnya, setelah proses pemulasaran selesai baru dilakukan tracking terhadap mereka yang terlibat.

Baginya itu tidak akan sulit karena keluarga yang terlibat pun bisa dibatasi hingga hanya empat orang.

"Kalau dalam Islam itu kan jenazah harus dimandikan, dibersihkan najisnya sampai dikafankan. Yang diluar Islam juga pasti ada ibadah dan lain sebagainya sehingga pihak keluarga harus diberikan ruang. Yang lakukan itu juga kan tidak banyak paling tiga atau empat orang. Nanti setelah sudah dilakukan baru tinggal ditracking oleh ketiga orang yang terlibat itu," jelas legislator dari daerah pemilihan (Dapil) Kota Ambon itu.

Baca juga: Total Rp 3,6 Milliar Anggaran PPKM Bagi 20 Kelurahan di Kota Ambon Hingga Akhir 2021

Baca juga: Layani Warga dari Balik Pagar, Far-Far Nilai Taspen Ambon Tidak Manusiawi

Dia menilai, solusi itu bisa dipertimbangkan, mengingat pelibatan keluarga artinya pemerintah mengakomodir keinginan keluarga.

"Tindakan keluarga korban mulai dari pengambilan jenazah secara paksa itu kan karena mereka tidak menerima prosesi penguburan dengan protokol seperti itu. Saat mereka melakukan itu malah ada yang ditindak pidana kan kasihan orang yang padahal keluarganya baru meninggal dunia. Jadi saya kira dengan libatkan keluarga dalam pemulasaran jenazah itu lebih terakmodir," tandas Rovik.

Diketahui, peristiwa ambil paksa jenazah di Kota Ambon cukup tinggi. Kasus terakhir terjadi di Rumah Sakit Tk II dr. Latumeten, Jl Dr. Tamaela Kota Ambon pertengahan bulan juli 2021.

Sementara kasus pertama terjadi akhir Juni 2020 di kawasan Jl Jendral Soedirman. Dari kejadian itu, dua orang ditetapkan tersangka dan sempat menjalani hukum badan. (*)

Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved