Breaking News:

Ambon Hari Ini

Polresta Ambon Periksa 8 Saksi Terkait Kasus Ujaran Kebencian terhadap Jokowi dan Murad Ismail

Polresta Ambon terus mendalami kasus dugaan ujaran kebencian terhadap Presiden Jokowi, Gubernur Maluku dan wali Kota Ambon di media sosial.

Penulis: Ode Alfin Risanto | Editor: Salama Picalouhata
Facebook
Postingan Risman Soulissa di laman facebook miliknya. 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com,Alfin Risanto

AMBON,TRIBUNAMBON.COM - Polresta Ambon terus mendalami kasus dugaan ujaran kebencian terhadap Presiden Jokowi, Gubernur Maluku dan wali Kota Ambon di media sosial.

Hingga saat ini, polisi sudah memeriksa 8 saksi.

"Kasus ujaran kebencian yang dilakukan Risman sudah diproses. Kita langsung periksa saksi-saksi, dan sampai saat ini sudah 8 orang diperiksa," ujar Paur subbag Humas Polresta Ambon dan Pp Lease, Ipda Izac Leatemia kepada TribunAmbon.com melalui telpon seluler, Rabu(28/07/2021).

Delapan saksi yang telah diperiksa tersebut, termasuk pelapor dari Satpol PP.

Namun, Leatemia enggan menyebutkan siapa saja saksi yang diperiksa, bahkan nama pelapor juga disembunyikan.

"Maaf kita tidak bisa memberitahukan nama saksi. Yang jelas ada 8 saksi sudah kita periksa dan pelaku sudah kita tetapkan sebagai tersangka,"tegasnya.

Baca juga: Polisi Tetap Proses Dugaan Ujaran Kebencian yang Dituduhkan kepada Risman Soulissa Meski Didemo

Baca juga: Mahasiswanya Jadi Tersangka UU ITE, Rahawarin; Berikan Dia Edukasi, Masa Depannya Masih Panjang

Lanjutnya, saat ini tim penyidik sedang mempersiapakan berkas tersangka untuk dilimpahkan ke pengadilan dlam waktu dekat ini.

"Berkasnya hampir rampung. Bila dipersentasikan berkasnya, sudah mencapai 80 persen,"terangnya.

Mahasiswa Universitas Pattimura sekaligus kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon tersebut, telah ditetapkan sebagai tersangka karena unggahannya.

Dua gambar berisi seruan aksi unjuk rasa diunggah Risman Soulissa di akun Facebook-nya pada 21 Juli 2021. Tampak dalam unggahan itu seruan untuk mencopot Presiden Joko Widodo, Gubernur Maluku, dan Wali Kota Ambon.

Dalam postingannya itu, dia juga menuliskan: semua diundang, kecuali Intel, Satpol PP, dan Pemerintah. Karena mereka bukan Kawan kami.

Dia dijerat pasal berlapis Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Yakni Pasal 45A Ayat (2) dan atau Pasal 45 ayat (3) UU No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal 14 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved