Breaking News:

Pasir Emas Pulau Seram

Akankah Penambang Emas Tamilow Pesisir Laut Banda Senasib Tambang Emas Pulau Buru dan Bombana

Sekadar diketahui 10 tahun lalu, tepatnya tahun 2011,  warga Pulau Buru menemukan butiran emas di Gunung Emas, nama lain Gunung Botak.

TribunAmbon.com/ Lukman Mukadar
Syarifudin Risahondua (55), orang yang pertama kali menemukan emas di bibir pantai Tamilow, Maluku Tengah 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com: Lukman Mukadar

MASOHI, TRIBUNAMBON.COM - Penemuan butiran pasir menyerepuai emas oleh warga kampung Tamilouw di pesisir selatan Pulau Seram, Laut Banda, Maluku , mulai menjadi perhatian publik.

Aktivis lingkungan Maluku dan tokoh masyarakat Maluku Tengah M Saleh Kalian (67), meminta pemerintah dan aparat mengawasi betul aktivitas pendulangan emas warga di kawasan muara aliran sungai dari Gunung Binaiya (3027 Mdpl) itu.

“Pemerintah daerah haris berhati-hati mengawasi aktivitas ini, jangan sampai seperti tambang emas di Gunung Botak, Pulau Buru atau sama seperti di Bombana (Sulawesi Tengah),” kata mantan legislator dari daerah pemilihan Tamilouw, Sepa Maluku tengah ini saat dimintai komentar oleh TribunAmbon.com

Pulau Buru sendiri, Kamis (25/3/2021) besok, akan dikunjungi Presiden Joko Widodo. Jokowi akan meninjau vaksininasi warga di Namlea, ibu kota kabupaten.

Sekadar diketahui 10 tahun lalu, tepatnya tahun 2011,  warga Pulau Buru menemukan butiran emas di Gunung Emas, nama lain Gunung Botak.

Warga desa Tamillow, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah mendulang emas di Bibir pantai, Senin (22/3/2021)
Warga desa Tamillow, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah mendulang emas di Bibir pantai, Senin (22/3/2021) (TribunAmbon.com/ Lukman Mukadar)

Hal yang sama juga terjadi di Bombana, kabupaten di Sulawesi Tenggara, tahun 2005 hingga 2010-an.

Selama hampir delapan tahun, warga mendulang emas secara sederhana dan tradional.

Mereka menggunakan peralatan dapur dan rumah tangga seadanya.

Awalnya,  warga di Pulau Buru, hanya menggunakan alat-alat dapur seperti, nyiru, panci dan wajan untuk mendulang emas.

Seiring puncak tambang sekitar 2014, kendaraan mekanik modern dari luar Pulau Buru mulai masuk dengan izin pemerintah daerah.

Baca juga: ESDM Maluku Sudah Laporkan Temuan Emas ke Pemerintah Pusat

Baca juga: Heboh Butiran Pasir Emas di Pantai Tamilouw Hanya Berselang 4 Hari Jelang Kedatangan Jokowi

Baca juga: Pemerintah Negeri Batasi Warga Luar Keruk Emas di Pantai Tamilow

Penambang yang awalnya hanya  ratusan orang, kurang lima tahun berlipat ganda hingga puluhan ribu orang.

Selain warga lokal, penambang dari berbagai daerah seperti Kalimantan, Makassar dan Jawa,  juga datang ke Pulau Buru,  untuk berburu emas.

Sejak itu pula, berbagai tingkatan penambangan bermunculan di lokasi itu, mulai dari pengusaha, penambang, pengolah emas, pedagang, bahkan lain-lain.

Laiknya tambang emas di Amerika abad ke-18 dan 19, dampak sosial dan kriminal mulai muncul.

Judi, peredaran minuman keras sampai narkoba kian marak di lokasi tambang.

Penggunaan merkuri dan sianida mematikan pun menggila.

Meski berkali-kali pemerintah mencoba penertiban, namun lokasi itu masih saja masuk para penambang untuk kegiatan ilegal.

Baca juga: Meneliti di Gunung Botak, Mantan Kapolda Maluku Royke Dikawal Aparat Bersenjata Lengkap

Alam sekitar mulai tercemar dan mengalami kerusakan cukup fatal. Bahkan, hewan ternak milik warga tiba-tiba mendadak mati.

Sapi-sapi mati ini diduga kuat lantaran limbah merkuri dan sianida dibuang begitu saja, hingga tercecer dan masuk mengaliri sungai-sungai yang mengarah ke laut di Pulau Buru.

Bupati Pulau Buru Tagop Sudarso Soulissa, di Ambon, Rabu (25/6/2018) lalu, menyebut di masa lima tahun "Ada investor asing di antara 16 perusahaan yang mengajukan izin untuk mengeksplorasi potensi emas di Buru Selatan.

Survei awal diketahui potensi emas di Buru Selatan menyebar di 101 titik  di hampir seluruh kecamatan di Buru Selatan.

Sejumlah investor asing terus mengeksplorasi potensi emas di Kabupaten Buru Selatan, untuk mengetahui deposit logam mulia  yang kini seharga Rp 890 ribu per gram itu.

Hingga kini kawasan bekas tambang emas di Bombana dan Buru Selatan kian kritis.

Pemprov Maluku melalui kerja sama dengan Kodam XVI/Pattimura, Polda Maluku dan Pemkab Buru sebenarnya telah menutup aktivitas penambangan emas di kawasan Gunung Botak pada 5 Desember 2012. 

Hal serupa di Sulawesi Tenggara.  27 September 2008, Pemkab Bombana, menutup penambangan alasan penertiban.

Ratusan petugas keamanan dari Polisi, Brimob, TNI dan Satpol PP bersiaga di beberapa lokasi. Setiap warga menambang wajib memiliki surat izin terbitan Dinas Pertambangan setempat.

Untuk masyarakat lokal biaya administrasi Rp50.000,  bagi warga pendatang registrasi Rp100.000. Dengan masa berlaku surat izin enam bulan.

Kini lima tahun terakhir lokasi tambang ini sepi.

Halaman
Penulis: Lukman Mukadar
Editor: Nur Thamsil Thahir
Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved