Breaking News:

BBM Oktan Rendah

Pengamat Otomotif; Harga Premium Murah Tapi Penggunaannya Lebih Boros

Bahan bakar minyak (BBM) beroktan rendah, yakni premium masih jadi pilihan masyarakat karena harganya lebih murah.

Penulis: Tanita Pattiasina | Editor: Fandi Wattimena
TribunAmbon.com/ Adjeng Hatalea
Salah satu unit layanan Pertashop di kawasan Pantai Natsepa, Suli, Salahutu, Maluku Tengah, Rabu (10/2/2021). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Tanita Pattiasina             

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Bahan bakar minyak (BBM) beroktan rendah, yakni premium masih jadi pilihan masyarakat karena harganya lebih murah.

Namun, penggunaannya lebih boros daripada BBM dengan oktan tinggi karena proses pembakaran pada mesin kendaraan lebih cepat.

“Semakin rendah semakin boros, karena proses pembakaran lebih cepat, bila semakin panas maka tenaga mesin menurun,” kata pengamat otomotif, Alfaji Payapo kepada TribunAmbon.com, Kamis (4/3/2021).

Ketua Supermoto Ambon ini menjelaskan, ada dua kendaraan dengan spesifikasi yang sama berangkat dari tempat yang sama dan menuju tempat yang sama kemudian diisi dengan premium dan pertalite (Nilai Oktan 92) dengan harga yang sama yakni  Rp 10 ribu.

Lanjutnya, walaupun isian dari premium akan jauh lebih banyak namun dipastikan kendaraan dengan isian premium akan habis duluan daripada yang berisikan pertalite.

Selain itu, penggunaan premium pada kendaraan dengan injector berpotensi merusak mesin.

“Kalau pakai oktan dibawah 90 berpotensi merusak pompa injektor karena punya oktan rendah jadi pembakaran cepat, mesin dipaksa terus untuk bekerja,” kata Alfaji.

Baca juga: Distributor Mobil Sarankan Pakai BBM Oktan Tinggi

Baca juga: Perluas Jangkauan BBM Bagi Masyarakat, Tiga Unit Pertashop Diluncurkan Pertamina di Pulau Ambon

Ia menambahkan, dampak lebih besar akan dirasakan pemilik kendaraan dengan spesifikasi penggunaan BBM oktan tinggi, namun penggunanya menggunakan premium.

“Padahal bila dihitung harga perbaikan motor apabila terjadi kerusakan akan jauh lebih mahal dan bisa memakan jutaan rupiah,” ungkap pria kelahiran 1993 itu.

Ia pun mengharapkan masyarakat beralih ke BBM beroktan tinggi agar mengurangi dampak pada mesin dan juga lingkungan sekitar.

“Jangan dipakai, karena lebih boros sebenarnya, potensi merusak mesin juga lebih besar daripada beroktan tinggi, tambah lagi polusinya lebih banyak dan bahaya,” tandasnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved