Kamis, 7 Mei 2026

Maluku Hari ini

Prof. A. Watloly Turun Demo Tolak Konservasi Laut Damer: Jangan Ambil Dunia Mereka

Aksi penolakan konservasi laut Damer diwarnai kehadiran Prof. Aholiab Watloly yang turun langsung bersama mahasiswa dan masyarakat adat.

Tayang:
Penulis: Maula Pelu | Editor: Ode Alfin Risanto
TribunAmbon.com/Maula Pelu
PENOLAKAN KAWASAN KONSERVASI- Prof. Dr. Aholiab Watloly, S.PAK.,M.Hum, turut menyuarakan penolakan kebijakan kawasan konservasi laut sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 Tahun 2022 untuk daerah Pulau Damer, Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. 

Ringkasan Berita:
  • Aksi penolakan konservasi laut Damer diwarnai kehadiran Prof. Aholiab Watloly yang turun langsung bersama mahasiswa dan masyarakat adat.
  • Ia menegaskan laut bukan sekadar ruang ekologis, tetapi identitas dan “dunia hidup” masyarakat kepulauan yang terancam hilang.
  • Pemerintah Provinsi Maluku melalui Sadali Ie berjanji akan menindaklanjuti dengan pertemuan bersama akademisi dan masyarakat adat.

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

AMBON, TRIBUNAMBON.COM-Aksi demostrasi penolakan kebijakan konservasi laut di Pulau Damer, Maluku Barat Daya (MBD), kali ini menghadirkan pemandangan yang tak biasa. 

Ditengah barisan mahasiswa dan masyarakat adat, tampak seorang guru besar ikut berdiri, menyatu dalam gelombang protes yang sarat argumentasi, bukan sekedar teriakan di Kantor Gubernur Maluku pada Rabu (6/5/2026) siang itu. 

Prof. Dr. Aholiab Watloly, S.PAK.,M.Hum, seorang akademisi filsafat dan sosiologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Pattimura Ambon, memilih turun langsung ke lapangan. 

Baca juga: Demo di Kantor Gubernur Maluku, Mahasiswa dan Warga Adat Tolak Kebijakan Konservasi Laut Damer

Baca juga: 24 WNA Asal Cina Diciduk di Tambang Gunung Botak Pulau Buru, Dokumen Disita Imigrasi Maluku

Kehadirannya memberi warna berbeda pada aksi yang menolak kebijakan konservasi laut sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 Tahun 2022. 

Terpantau riuhnya orasi menjadi ruang dialektika. Mahasiswa berbicara dengan data, masyarakat adat bersuara dengan pengalaman, dan akademisi memperkuat dengan refleksi kritis. 

“Disela-sela ini beta (saya) ada kesibukan ujian S2 tesis. Beta pembimbing. Beta minta ijin dari teman-teman untuk harus dengar anak-anak punya aspirasi perjuangan. Ternyata anak-anak ini cerdas. Bukan sekedar ngomong,” ujar Prof. Watloly, ditemui TribunAmbon.com. 

Sebagai seorang akademisi senior, cara narasi penolakan konservasinya tidak mentah-mentah, melainkan dipersoalkan dari sudut pandang eksistensi masyarakat kepulauan. 

Bahwa Laut dalam argumentasinya yang mengemuka, bukan sekedar ruang ekologis, tetapi ruang hidup, ruang budaya, bahkan ruang moralitas. 

Prof. A. Watloly menegaskan, masyarakat adat Maluku tidak bisa dipisahkan dari teritorialnya. 

Laut dan daratan adalah satu kesatuan kosmos. 

“Laut bukan saja bentangan geografis tetapi kosmos dunia yang menghidupi masyarakat kepulauan. Antara pulau yang satu dengan pulau yang lain, itu yang disebut masyarakat kepulauan. Tapi kalau laut sudah diambil, maka kami kehilangan. Kami kan masyarakat antar pulau, budaya antar pulau, pertukaran sosial antar pulau, kalau ini diambil maka katong kehilangan kosmos itu, kehilangan dasar, kehilangan warna moral dalam perjuangan,” sambungnya.

Aksi ini juga memperlihatkan kekhawatiran nyata. 

Bagi warga Pulau Damer yang bergantung pada laut, kebijakan konservasi berpotensi memutus rantai ekonomi keluarga. 

Anak-anak bisa kehilangan akses pendidikan jika orang tua mereka tak lagi bebas mengelola laut dan daratnya. 

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved