Minggu, 26 April 2026

SBT Hari Ini

Akses Vital Warga Terancam, Jembatan Kayu Bula Air–Fattolo Memprihatinkan

Pantauan di lokasi, Minggu (11/1/2026), papan-papan jembatan tampak lapuk dan bergeser, sementara balok penyangga mulai melemah.

Penulis: Haliyudin Ulima | Editor: Mesya Marasabessy
TribunAmbon.com/Ali/Haliyudin Ulima
JEMBATAN RUSAK - Kondisi jembatan penghubung Bula Air - Fatolu di Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Minggu (11/1/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Jembatan kayu yang menghubungkan Desa Bula Air dan Desa Fattolo di Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), kembali dikeluhkan warga. 
  • Kondisinya yang rapuh, berlubang, dan nyaris roboh memaksa masyarakat setiap hari mempertaruhkan keselamatan demi menjalani aktivitas hidup.
  • Pantauan di lokasi, Minggu (11/1/2026), papan-papan jembatan tampak lapuk dan bergeser, sementara balok penyangga mulai melemah.
  • Beberapa bagian jembatan bahkan hanya disangga kayu tambahan hasil swadaya warga.

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima 

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Jembatan kayu yang menghubungkan Desa Bula Air dan Desa Fattolo di Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), kembali dikeluhkan warga. 

Kondisinya yang rapuh, berlubang, dan nyaris roboh memaksa masyarakat setiap hari mempertaruhkan keselamatan demi menjalani aktivitas hidup.

Pantauan di lokasi, Minggu (11/1/2026), papan-papan jembatan tampak lapuk dan bergeser, sementara balok penyangga mulai melemah.

Beberapa bagian jembatan bahkan hanya disangga kayu tambahan hasil swadaya warga. 

Pagar pembatas dari besi tua berkarat terlihat tak lagi berfungsi sebagai pengaman.

“Setiap lewat di sini kami takut. Kayunya sudah goyang, apalagi kalau bawa motor dan muatan. Tapi mau lewat mana lagi? Ini jalan satu-satunya,” ujar Ismail salah satu pengendara kepada TribunAmbon.com.

Baca juga: Pengamat Polri Soroti Polemik Kelulusan SIP Bripka Stevi: Psikotes Tak Lulus, Harusnya Gugur

Baca juga: Pohon Tumbang Hampir Tutup Jalan di Taeno Rumahtiga Ambon

Bagi warga, jembatan tersebut merupakan akses utama menuju sekolah, kebun, pasar, dan fasilitas kesehatan. 

Anak-anak sekolah harus melewatinya setiap pagi, sementara petani mengangkut hasil kebun dengan risiko terjatuh ke sungai.

“Kalau hujan turun, jembatan licin. Sudah sering orang hampir jatuh. Kami cuma bisa berdoa supaya jangan sampai ada korban,” lanjutnya.

Ironisnya, kondisi jembatan ini telah berlangsung bertahun-tahun tanpa perbaikan permanen dari pemerintah. 

Warga mengaku hanya mengandalkan perbaikan seadanya secara gotong royong, meski hasilnya tak mampu bertahan lama.

“Kami sudah sampaikan keluhan ke pemerintah desa dan kecamatan. Katanya diusulkan, tapi sampai sekarang belum ada realisasi," sesalnya.

Tak hanya mengancam keselamatan, jembatan rapuh ini juga disebut menghambat roda ekonomi warga. 

“Kalau jembatan bagus, warga bisa bawa hasil kebun lebih banyak. Sekarang ini warga takut kalau mau lewat," tandasnya.

Warga berharap pemerintah setempat dapat menjawab keluhan mereka, agar segera turun tangan memperbaiki jembatan tersebut.

“Kami tidak minta yang mewah, cukup jembatan yang aman supaya warga tidak takut kalau lewat sini, warga bisa nyaman," tutupnya.(*)

Sumber: Tribun Ambon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved