Waragonda Terbakar
Dirut PT. Waragonda Bantah Abrasi di Haya Akibat Ulah Perusahaan, Ini Penjelasan Para Ahli
Menurutnya, kerusakan garis pesisir itu murni faktor alamiah, hal itu mengingat perusahaan tambang pasir granit itu baru dalam tahap pengembangan.
Penulis: Silmi Sirati Suailo | Editor: Fandi Wattimena
TRIBUNAMBON.COM - Direktur Utama (Dirut) PT. Waragonda Minerals Pratama, Amin Saofa membantah abrasi yang terjadi di Desa Haya, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah akibat aktivitas perusahaan.
Menurutnya, kerusakan garis pesisir itu murni faktor alam, hal itu mengingat perusahaan tambang pasir granit itu baru dalam tahap pengembangan.
Aktivitas pengambilan pasir pun belum dalam skala besar untuk kebutuhan komersil, melainkan sebatas keperluan uji coba kepada target pengguna produk.
Dengan begitu akan ada perbaikan dan peningkatan kualitas bahan baku sebelum mulai produksi dalam jumlah besar.
“Yang utama perlu tahu dulu kerusakan ini karena adanya abrasi. Dan kami dalam bentuk pembangunan, pabriknya saja belum produksi besar. Masih tes sampel end user. Ini kan masih baru jadi belum proper,” ungkap Amin dalam keterangan pers yang disampaikan pada Sabtu malam (22/2/2025).
Hal itu didukung dengan penjelasan secara ilmiah oleh ahli kimia dan pertambangan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Prof. Yusthinus Thobias Male.
Juga ahli oseanografi, pemetaan dan SIG Jusup Wattimury.
Menurut Prov Male, pasir garnet bersumber dari gunung, terbawa melalui aliran sungai hingga ke pesisir.
Berat massa pasir garnet cukup tinggi, berbeda jauh dengan pasir biasa sehingga mudah terbawa arus.
Baca juga: Penahanan 2 Tersangka Pembakaran PT. Waragonda, Polisi Imbau Warga Tahan Diri
Baca juga: Megawati Tunjuk Ronny Talapessy dan Ahmad Basarah Jadi Jubir PDIP
“Garnet itu hanya ada di daerah gunung api atau bekas gunung api yang ada aktivitas magma, dekat daerah patahan. Garnet itu tidak ada di laut. Garnet itu pasir hitam. Dia lebih berat dari pasir pantai,” tegasnya dalam keterangan pers persama PT Walahgonda Mineral Pratama.
Menyoal arus, Wattimury menjelaskan, secara geografis pantai desa Haya berhadapan dengan perairan Laut Banda yang sangat dinamik akibat perubahan musim.
Terjadinya abrasi di pantai Desa Haya berdasarkan hasil identifikasi lapangan dan oseanografi dan meteorology terhadap parameter gelombang, arus, pasang surut, kenaikan muka laut serta pola angin musim disebabkan oleh pengaruh kekuatan gelombang musim dan arus dari dinamika musim di perairan Laut Banda, pasang surut dan kenaikan muka laut.
Secara sederhana dinamika inilah yang menyebabkan terbawanya pasir atau material di pesisir pantai Haya keluar dan berpindah ke lokasi lain.
"Kedudukan pantai Desa haya terbuka terhadap lintasan angin yang bertiup dari arah barat, barat daya, selatan, tenggara dan timur dengan panjang lintasan angin bertiup tanpa rintangan relativ jauh terutama arah barat daya, selatan dan tenggara. Ini berarti sangat memungkinkan terjadi kondisi laut menggelora," tandasnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.