Sabtu, 11 April 2026

Info Daerah

Ironis, Tersisa Dua dari Ratusan Lapak Kosong yang Ditinggal Pedagang Pasar Un Tual

Ironisnya, pasar yang dibangun dengan anggaran sebesar 97 miliar sesuai data LPSE tersebut kini lumpuh tanpa aktivitas jual beli. Pantauan TribunAmbo

Penulis: Megarivera Renyaan | Editor: Adjeng Hatalea
TribunAmbon.com / Megarivera Renyaan
MALRA: Satu dari dua pedagang yang masih setia berjualan di pasar Un Tual, Kamis (4/4/2024). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Megarivera Renyaan

TUAL, TRIBUNAMBON.COM - Pasca Palang Adat (Sasi) masyarakat Taar dicabut, Pasar Un Tual sepi ditinggal pedagang.

Mereka enggan kembali berjualan di Pasar Un Tual, dan lebih memilih tetap menjajakan sembako di Bundaran SPBU Kota Tual, dengan dalih lebih laris.

Ironisnya, pasar yang dibangun dengan anggaran sebesar 97 miliar sesuai data LPSE tersebut kini lumpuh tanpa aktivitas jual beli.

Pantauan TribunAmbon.com, Kamis (4/4/2024) pukul 11.27 WIT, ratusan lapak kosong di tinggal pedagang.

Sementara Satuan Polisi Pamong Praja yang terdiri dari 10 orang nampak bergerombol mengisi waktu luang tugas dengan main kartu.

Dari ratusan pedagang yang enggan kembali hanya tersisa dua lapak yang masih setia menggelar dagangan di pasar yang terletak di luar kota tersebut.

Taufik (50) salah seorang pedagang baju yang masih bertahan hingga saat ini, mengaku tidak ada pilihan lain selain tetap bertahan di Pasar Un Tual.

Pasalnya, ia tidak tahu akan berdagang dimana lagi selain di pasar tersebut.

"Tidak tahu lagi mau pindah kemana jadi ya tetap jualan di sini, kita kesana seandainya pemerintah sudah siapkan tempat jika harus sewa lagi jujur kami tidak ada modal," ungkapnya.

Baca juga: Ogah Balik ke Pasar UN Tual, Pedagang Ngaku Lebih Laris di Bundaran BTN SPBU Kota Tual

Menurutnya, sudah ada kesepakatan, pasar dadakan di Bundaran SPBU Tual bertahan hingga selesai Lebaran setelah itu kembali lagi.

Ia mengaku sudah puluhan tahun berjualan di Pasar Maren Tual.

Namun, saat ada perintah relokasi karena revitalisas, dia pun menurut saja apa kata Pemkot dengan pindah ke Pasar Un.

"Jadi apapun resikonya ada dan tidak ada pembeli tetap saya buka saja di sini, rejeki urusan Tuhan. Hingga kini tetap saja ada pembeli kadang satu lembar baju laku ataupun dalam sehari pulang dengan tangan hampa," tuturnya.

Senada, Haji Eddi (60) salah satu pedagang sembako mengaku masih tetap berdagang karena janji Disperindag, sesuai kesepakatan yang tetap buka akan diprioritaskan mendapatkan lapak di pasar baru.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved