Kepemiluan
Citra Gemoy dan Umpatan Prabowo Subianto jadi Sorotan selama Kampanye Pilpres 2024
Pasalnya, sejumlah pernyataan kontroversial yang dilontarkan Prabowo dalam kampanye tatap muka dengan para pendukungnya di beberapa tempat.
"Saudara-saudara ada pula yang nyinggung-nyinggung punya tanah berapa, punya tanah ini, dia pinter atau goblok, sih?" ujar Prabowo.
Prabowo juga menilai soal kepemilikan tanah seharusnya tidak perlu dijadikan bahan argumentasi dalam debat capres.
"Enggak usah di bawa-bawa debat, lah. Anda hanya memperlihatkan ketololan Anda," ucap Prabowo. Prabowo juga mengatakan, di ia sudah mengembalikan tanah tersebut ke negara sekitar 2 tahun lalu.
Oleh karena itu, Prabowo merasa Anies sengaja mengungkit soal kepemilikan lahan buat menyudutkannya dan menghasut masyarakat supaya membenci dirinya.
"Dia mau ejek, mau menghasut. Dia mau bikin rakyat benci sama saya. Padahal pak Jokowi aja, saya di istana 2,5 tahun yang lalu saya sudah serahkan tanah itu kepada negara," ujar Prabowo
"Saya sampaikan ke bapak presiden, bapak Presiden kalau lahan ini dibutuhkan untuk lumbung pangan bangsa Indonesia, pakai, pakai lahan HGU saya. Gunakan. Saya siap. Dan kita sedang menggarap itu," katanya.
Setelah debat ketiga Pilpres, jagat media sosial juga diramaikan dengan narasi yang mengkampanyekan dan memperlihatkan Prabowo seakan dizalimi dan diserang secara personal oleh Anies dan calon presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo.
Menurut Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro, mengemas kampanye dan pencitraan Prabowo pada masa awal kampanye memang positif dan menuai simpati masyarakat serta para pengguna media sosial.
"Secara teknis, pencitraan 'gemoy' yang selama ini dibuat sukses membingkai persepsi kalangan Generasi Z dan Milenial. Karena beberapa kali terbukti beragam ekspresi Prabowo viral," kata Agung dalam keterangannya seperti dikutip pada Kamis (11/1/2024).
Meski begitu, Agung menilai pencitraan Prabowo justru seolah tak selaras dengan tindak-tanduk sang capres ketika melakukan kampanye terbuka.
Padahal menurut Agung, salah satu kunci pencitraan politik adalah mesti sejalan antara pernyataan dan sikap yang disampaikan seorang politikus di hadapan media dan juga kehidupan sehari-hari.
"Secara substantif, pencitraan yang baik harus menemui kenyataan ketika diuji beragam situasi termasuk saat debat maupun di luar debat," ujar Agung.
Agung mengatakan, tim kampanye Prabowo mesti bekerja lebih baik buat melakukan pencitraan politik yang selaras dari seorang sosok calon pemimpin yang ada di depan layar kaca maupun kenyataan sehari-hari.
"Sehingga perlu diperbaiki atau dikondisikan dengan citra baru yang lebih adaptif agar tetap relevan dengan realitas politik yang hadir," ucap Agung.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.