Ramadan 2023
Tradisi Unik Negeri Hitu, Anak-anak Ramaikan Masjid Raya Sambil Bawa Ketupat Usai Muazin Pukul Beduk
Hal ini sudah menjadi tradisi tahunan setiap ramadan bagi warga yang bermukim di Desa Hitu Messing maupun Hitu Lama. Berdasarkan pantauan TribunAmbon
Penulis: M Fahroni Slamet | Editor: Adjeng Hatalea
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Fahroni Slamet
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Ketika Muazin memukul beduk dengan hentakan yang tak terhitung, bunyi yang dihasilkan seakan jadi alarm bagi anak-anak di Negeri Hitu, Maluku Tengah, Maluku, Senin (17/04/2023).
Mereka akan berlari ke arah pelataran Masjid Raya Hitu sambil membawa ketupat.
Ketupat yang dibawa sesuai dengan jumlah jiwa dari masing-masing keluarga di negeri tersebut.
Hal ini sudah menjadi tradisi tahunan setiap ramadan bagi warga yang bermukim di Desa Hitu Messing maupun Hitu Lama.
Berdasarkan pantauan TribunAmbon.com, anak-anak ramai mendomonasi pelataran, mengenakan pakaian islami terbaik mereka.
Bermain dan pasti menyerahkan ketupat yang hitungannya berdasarkam jumlah jiwa yang hidup di rumah mereka.
Tak sedikit anak-anak secara mandiri diantarkan oleh para orangtua, karena mereka senang bisa bermain di pelataran masjid tentunya.
Membawa ketupat yang dititipkan orangtua mereka menjadi misi penting sore itu.

Setelah meletakan dan menyalami para Muazin, di masjid atau bahasa setempat disebut Rumah Sigi, mereka pun menunggu sejenak untuk didoakan.
“Ya kami doakan doa salamat untuk orang yang membawa ketupat, kami percaya sesuatu yang baik harus didoakan terus,” salah seorang Muazin Masjid Raya Megeri Hitu, Soleman Kahaela.
Setelahnya, anak-anak mulai menyibukkan diri dengan bermain, berlari, dan juga bercerita dengan kawan seumuran mereka.
Baca juga: Raja Hitu Messing Ajak Warga Ambon Kunjungi Pantai Tanjung Tetulain Minggu Terakhir Sebelum Ramadan
Makin sore rupanya jadi titik klimaks tradisi itu, anak-anak makin ramai, dan juga gunungan katupat dibawa pun telah terlihat.
Muazin masih konsisten dengan tugasnya dari awal, bacakan doa salamat.
"Selepas Magrib, mulai dari abis Ashar, ini tradisi unik yang sudah dari lama dijalankan,” lanjut Soleman.
Adapun tradisi ini merupakan rentetan acara Malam Tujuh Likur, masyarakat akan keliling kampung dengan membawa obor dan pastinya memanjatkan puji-pujian kepada Allah SWT. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.