Breaking News:

Ambon Hari Ini

Gempa Besar dan Tsunami Mengintai, Ambon Tak Layak Jadi Kota?

Gempa besar dan tsunami mengintai Kota Ambon dan Maluku karena terletak pada pertemuan tiga lempeng besar.

(Shutterstock/Evgen Matveev)
Ilustrasi tsunami. Gempa besar dan tsynami mengintai Kota Ambon dan Maluku karena terletak di tiga titik pertemuan lempeng. Pernah diucapkan pakar gempa, Ambon berpoteni mengalami tsunami besar seperti Aceh. 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Mesya Marasabessy

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Provinsi Maluku termasuk Kota Ambon rawan gempa dan tsunami karena terletak pada pertemuan tiga lempeng besar yakni Pasifik, Indo Australia dan Eurasia.

Lempeng Indo Australia masuk ke bawah Eurasia, bertemu dengan Lempeng Pasifik sehingga mengakibatkan patahan yang tidak beraturan.

Daerah-daerah rawan gempa di Maluku di antaranya wilayah-wilayah bagian tenggara, Pulau Ambon, Seram dan Buru.

Sedangkan, pusat patahan di antaranya berada di Laut Ambon dan SBB.

Penjabat Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena tak memungkiri penyebab Ambon rawan bencana lantaran pada kawasan ini terdapat pertemuan tiga lempeng penyusun kulit bumi.

“Penyebab Ambon rawan bencana karena terdapat pertemuan tiga lempeng penyusun kulit bumi yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik,” kata Bodewin Wattimena disela-sela kegiatan simulasi mekanisme tanggap bencana banjir dan tanah longsor di Batu Merah Ambon, Senin (19/9/2022).

Baca juga: Bodewin Wattimena Ungkap Penyebab Ambon Rawan Bencana Longsor hingga Gempa

Baca juga: Gempa di Kobisonta Mengisyaratkan Maluku Rawan Gempa

Ia menjelaskan, pertemuan zona ini bukan saja membentuk zona tumbukan atau subduksi yang dapat menjadi sumber gempa lokal.

Namun, juga sumber gempa lain yang berasal dari Laut Banda dan Samudera Pasifik atau gempa tektonik yang sangat mempengaruhi formasi batuan di Maluku, karakteristik sesar, atau patahan, serta aktivitas gempa bumi.

Selain itu, kondisi topografi Kota Ambon sebagian besar daerah perbukitan dan berlereng terjang dengan kemiringan lerengnya lebih dari 20 persen.“Serta kondisi curah hujan dari sedang sampai lebat juga mempengaruhi terjadinya bencana,” ungkap Wattimena.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved