Selasa, 9 Juni 2026

Jalan-Jalan ke Tulehu, Negeri Sepak Bola Indonesia

Secara konsisten dalam 50 tahun terakhir, Negeri atau kampung ini secara konsisten menyumbang pesepakbola kualifikasi regional, nasional, bahkan inter

Tayang:
Ode Dedy Azis
Tim TribunAmbon.com saat berkunjung ke Kampung Sepak Bola , Tulehu, Maluku Tengah. 

Di desa pesisir antara Selat Haruku, Pulau Saparua dan Pulau Seram di Maluku Tengah ini, kaki dan bola adalah hidup hingga mati.

Pencaharian masyarakat hampir 40% bermata pencaharian sebagai petani. Sisanya Pedagang (21%), nelayan (7%), 15% sebagai buruh, 10% pegawai, dan 8% lain-lain.

Tulehu relatif aman sebab hanya berjarak kurang 1 km dari pusat resimen pendidikan TNI yang dikelola Kodam XVI/Pattimura.

“Perantau sukses Tulehu itu menyebar sejak sebelum kemerdekaan di Surabaya, Makassar, dan Jakarta.”

Keanekaragaman dan semangat budaya terbuka inilah, yang juga membuat Tulehu jadi inspirasi novel dan film ternama dari Maluku, setelah kota Ambon dan Buru.

Tahun 2014 lalu, wartawan Zen Rahmat Sugito menulis novel 300 halaman, Jalan Lain ke Tulehu. Ini berkisah sisi lain konflik berdarah berbau SARA di Maluku dan Ambon akhir dekade 1990 dan awal 2000-an lalu.

Tulehu juga jadi inspirasi film adaptasi “Cahaya Dari Timur; Beta Maluku, karya Angga Sasongko (2014).

Film ini secara spesifik bercerita erita sukses pemain sepak bola asal Tulehu.

Warga Tulehu seperti kampung hantu tak berpenghuni jika ada laga bola level nasional dan internasional.

Semuanya asik di dalam rumah atau kedai kopi.

“Baru selama pandemi ini, anak muda nonton live streaming lewat hape,” kata Amin (47), warga Dusun Pahlawan, Desa Tulehu, Jumat (5/11/2021) lalu.

Jika ingin menyaksikan gairah sepak bola di Tulehu, datanglah selepas shalat Ashar.

Beberapa garis pantai pasir putih di Tulehu akan penuh dengan pemain sepak bola muda.

Sehabis Shalat Azar, orangtua, kakek dan kakak akan membonceng anak usia SD dan SMP ke lapangan kampung, Matawaru.

Saat orang tua memboncenceng anaknya ke Lapangan Sepak Bola.
Saat orang tua memboncenceng anaknya ke Lapangan Sepak Bola. (Ode Dedy Azis)

Saat Tribun bertandang ke lapangan itu, legenda Persebaya Surabaya era 1990 dan 2000-an, Rachel Tuasalamony, sedang memimpin laga eksebisi usia 13-15 tahun.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved