Maluku Terkini
Berikut Sosok dan Perjalanan A.M Sangadji, Putra Rohmoni Sang Pejuang Kemerdekaan yang Terlupakan
Sangat disayangkan, Jago Tua A.M Sangadji hingga saat ini belum diangkat menjadi pahlawan nasonal.
Penulis: M Fahroni Slamet | Editor: Salama Picalouhata
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Ridwan Tuasamu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Abdul Muthalib Sangadji atau biasa dikenal dengan A.M Sangadji merupakan pria kelahiran Rohomoni, Uly Hatuhaha, Maluku Tengah, 132 tahun silam.
Tokoh yang lahir pada 3 Juni 1889 tersebut, dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang berani, jujur dan sederhana.
Masa kecilnya, dia mengenyam pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) buatan kolonial Belanda.
Kemudian dia melanjutkan pendidikan menengahnya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).
Namun, dia kemudian memilih tidak melanjutkan pendidikan lagi karena ingin berkiprah dalam dunia politik.
Baca juga: A. M Sangadji Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Sadli Le; Kami Dukung Sepenuhnya
Menurut informasi yang dilansir TribunAmbon.com, dikalangan para pahlawan, A.M Sangadji dikenal sebagai Jago Toea dari Maluku yang berjiwa ksatria memperjuangkan kemerdekaan NKRI.
Selain itu, kepiawaiannya dalam berpidato membuat mobilitas si jago tua tidak hanya sebatas di Maluku saja namun dikenal hingga seluruh pelosok Indonesia.
Pria yang juga merupakan salah satu pendiri Persatuan Sarekat Islam Indonesia (PSII) itu, pernah melakukan perjalanan hingga Jawa, Sulawesi dan Borneo untuk menyampaikan gagasannya kepada masyarakat.
Pada tahun 1920, putra terbaik Rohomoni tersebut pernah mendirikan Balai Pengadjaran Pendidikan Rakyat (BPPR) di Samarinda, Kalimantan Timur.
Niatnya saat itu yakni, menampung anak-anak sekolah dan memberikan pengajaran khusus kepada mereka.
Baca juga: Secara Politik, DPRD Maluku Sepakati A. M Sangadji sebagai Pahlawan Nasional
Pada tahun 1943, si jago tua dari Maluku pernah ditahan bersama rombongannya oleh tentara pendudukan Jepang.
Dalam masa penahanannya, A.M Sangadji diangkat menjadi pemimpin organisasi bentukan Jepang yakni Heiho.
Organisasi ini dibentuk untuk melatih pemuda Samarinda menjadi militer dan bisa membantu Jepang menjaga pertahanan dari serangan Belanda.
Namun berkat kecerdikannya, A.M Sangadji memanfaatkan momen itu untuk melatih para pemuda tersebut dan menarik mereka menjadi Prajurit Pembela Tanah Air (PETA).
Baca juga: 20 Tahun Proses Usulan A. M Sangadji Sebagai Pahlawan Nasional, Kamil Monu; Dipersulit Pemda Maluku
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/am-sangadji.jpg)